Wednesday, March 19, 2008

PESAN 3M AA GYM DALAM PENYELAMATAN BUMI "EARTH HOUR" WWF

Oleh Rahmad Nasution

Pesan "3M" Dai kondang asal Bandung, Aa Gymnastiar, agaknya relevan dengan upaya banyak pihak mendorong sebanyak mungkin orang ikut langsung dalam misi penyelamatan bumi dari ancaman pemanasan iklim global.

Pesan 3M ustadz yang masyhur dengan konsep Manajemen Qolbunya itu adalah "Mulailah dari diri sendiri, Mulailah dari hal-hal kecil, dan Mulailah dari sekarang".

Apa yang dipesankan Aa Gym dalam berbagai kesempatan pengajiannya beberapa tahun lalu itu justru relevan dengan apa yang sejak 31 Maret 2007 lalu dikampanyekan World Wild Fund for Nature (WWF) Australia, yakni "Earth Hour".

"Earth Hour" tersebut adalah sebuah gerakan penyelamatan bumi dari ancaman pemanasan global dengan cara mematikan lampu selama satu jam.

Gerakan mematikan lampu selama sejam yang diinisiatifi oleh WWF Australia itu bermula di Sydney pada 31 Maret 2007.

Saat itu, sekitar 2,2 juta orang warga dan 2.100 perusahaan di kota metropolitan terbesar Australia itu serentak mematikan lampu selama satu jam pada tanggal tersebut.

WWF Australia memperkirakan emisi karbon yang bisa dikurangi dari gerakan mematikan lampu selama satu jam dalam setahun penuh di Sydney itu setara dengan mengeluarkan 48.616 unit mobil dari jalan-jalan kota itu.

Setelah keberhasilan di Sydney itu, para aktivis lingkungan hidup Australia lalu memperluas inisiatif mereka ini ke tingkat global dengan meluncurkan gerakan "Earth Hour" secara global di Bali (Indonesia) pada 14 Desember 2007.

Saat itu, Direktor Jenderal WWF, James Leape, mengungkapkan terima kasihnya kepada para wali kota dan pejabat negar yang ikut mendukung gerakan yang disebutnya "kegiatan global unik yang memperlihatkan komitmen" bersama untuk merespons tantangan perubahan iklim.

"Selama 'Earth Hour' itu, kalangan pemerintah, pengusaha, pimpinan masyarakat, dan warga perorangan mematikan lampu-lampu di tempat mereka. Aksi nyata mereka ini dapat membantu mewujudkan satu perubahan di tengah tantangan besar dunia saat ini," katanya.

Di antara ikon kota Sydney yang ikut "gelap" pada Maret 2007 lalu itu adalah gedung Opera Sydney dan jembatan pelabuhan Sydney (Sydney Harbour Bridge).

Pemimpin WWF-Australia, Greg Bourne, mengatakan, peristiwa di Sydney tahun 2007 itu membawa pesan global yang kuat bahwa setiap orang bisa ikut dalam merespons tantangan perubahan iklim dunia. Dan, pihaknya ingin pesan itu sampai ke semua orang di dunia.

Pada 29 Maret 2008, gerakan "Earth Hour" kembali digelar.Kath Eggleston dari WWF-Australia kepada ANTARA mengatakan, gerakan ini tidak hanya didukung oleh banyak kota di Australia tetapi juga kota-kota besar di dunia.

Jumlah kota-kota besar di dunia yang mendukung gerakan mematikan lampu selama sejam ini akan bertambah menjelang tanggal pelaksanaan."Kami masih terus memperbaharui jumlah kota di dunia yang mendukung gerakan ini. Jumlah terakhirnya baru bisa diketahui pada 28 Maret," katanya.

Saat ditanya apakah ada di antara kota-kota di dunia yang telah menyatakan ikut mendukung gerakan ini berasal dari Indonesia mengingat peluncuran inisiatif global "Earth Hour" berlangsung di Bali Desember 2007 lalu, Enggleston secara diplomatis mengatakan, hal itu mungkin lebih diketahui oleh perwakilan WWF-Indonesia.

"Anda mungkin bisa mengetahuinya dengan menghubungi perwakilan WWF-Indonesia," katanya seraya memberikan nomor kontak WWF-Indonesia.

Hanya saja, dari informasi yang dipublikasi "Earth Hour" melalui laman (situs)-nya http://www.earthhour.org, tidak tampak ada satu nama kota di Indonesia pun di antara nama-nama kota di Australia dan dunia yang sudah bersedia mendukung gerakan 29 Maret 2008 malam itu.

Hingga 20 Februari 2008, setidaknya ada 24 kota yang sudah bersedia mendukung kampanye perubahan iklim "Earth Hour" WWF ini. Ke-24 kota itu adalah Atlanta, San Francisco, Phoenix, Bangkok, Ottawa, Vancouver, dan Montreal Dublin.

Selanjutnya Sydney, Perth, Melbourne, Canberra, Brisbane, Adelaide, Copenhagen, Aarhus, Aalborg, Odense, Manila, Suva, Chicago, Tel Aviv, Toronto dan Christchurch.

Gerakan kolektif "hemat energi" gaya WWF yang tampak sederhana ini diyakini mampu menimbulkan efek berantai yang besar kalau kesadaran pada pentingnya penyelamatan bumi dari pemanasan global itu sudah menjadi "kebiasaan" semua pihak.

Efek kebiasaan individu
Efek berantainya diperkirakan WWF akan semakin nyata kalau kebiasaan mematikan lampu selama satu jam itu sudah menjadi kebiasaan setiap individu setiap hari.

Dilihat dari kondisi iklim bumi, setiap orang tampaknya patut menyadari bahaya yang mengancam karena laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) 2007, ulah manusia adalah faktor utama penyebab terus memanasnya dengan cepat iklim bumi.

Jumlah konsentrasi karbon dioksida yang ada di atmosfir bumi saat ini pun telah jauh melampaui batas kontrentrasi alaminya sejak 650 ribu tahun silam.

Laporan yang yang disusun oleh ratusan ilmuwan dari 26 negara di bawah naungan Pusat Riset Perubahan Iklim Universitas New South Wales (UNSW) Australia itu menyebutkan, jutaan orang terancam peristiwa-peristiwa ekstrim seperti gelombang panas, kemarau panjang, dan banjir jika kondisi ini tidak segera diperbaiki.

Keberlanjutan pemanasan global itu juga mengancam kehidupan banyak daerah pesisir dan kota di dunia akibat naiknya permukaan laut. Ekosistim, spesies tanaman dan hewan pun menghadapi bahaya kepunahan yang serius.

Berdasarkan pemahaman ilmiah yang kini berlaku, emisi gas rumah kaca global perlu dikurangi sedikitnya 50 persen di bawah level tahun 1990 hingga tahun 2050.

Dalam jangka panjang, konsentrasi gas rumah kaca perlu distabilkan pada tingkat aman di bawah 450 ppm (parts per million).

Dalam konteks inilah, signifikansi kampanye pemadaman listrik selama satu jam "Earth Hour" WWF pada 29 Maret 2008 malam itu tampak relevan dengan tantangan global yang ada.

Kendati kota-kota di Indonesia belum tampak di antara 29 kota yang sudah menyatakan keikutsertaannya dalam kampanye global "Earth Hour" itu, namun tidak berarti bahwa tidak ada dukungan sama sekali dari Indonesia.

Setidaknya gaung dukungan bagi kampanye pemadaman listrik selama sejam itu datang dari berbagai kantor perwakilan RI di Australia, seperti KBRI dan Wisma Indonesia di Canberra serta konsulat dan konsulat jenderal RI di Sydney dan Darwin.

Konsul Jenderal RI di Sydney, Sudaryomo Hartosudarmo, mengatakan, ia sangat mendukung kampanye "hemat energi" itu dengan melakukan melakukan "pemadaman" lampu di gedung KJRI Sydney dan Wisma Indonesia.

"Sebenarnya pola hidup 'hemat energi' sudah kita terapkan selama ini apalagi kita hidup di tengah masyarakat Sydney yang umumnya memiliki tingkat kesadaran akan pentingnya hemat energi yang relatif tinggi," katanya.

Sudaryomo yang pernah bertugas di Jerman menceritakan perbedaan antara warga Jerman dan warga Sydney, Australia, dalam berhemat energi untuk mendukung upaya mengurangi beban polusi di bumi.

"Kalau di Jerman, lampu teras rumah masih hidup walaupun lampu-lampu di dalam dimatikan pemiliknya di malam hari. Tapi kalau di Sydney, seperti yang saya lihat di rumah tetangga saya, semua lampu mati. Artinya, tingkat kesadaran akan pentingnya berhemat energi warga Sydney sangat tinggi," katanya.

Diplomat senior ini mengatakan, ia sering merasa risih dengan cara hidup sebagian warga Indonesia yang belum menyadari arti penting sumbangsih individual terhadap upaya meringankan beban polusi gas karbon dioksida di atmosfir bumi.

"Karena itu, kampanye WWF Australia ini patut didukung, dan saya akan mendukungnya dengan senang hati," katanya.

Dukungan yang sama juga datang dari Konsul RI di Darwin, Harbangan Napitupulu. Ia mengatakan, ia akan memerintahkan seluruh staf Konsulat RI di Darwin untuk mendukung kampanye "Earth Hour" itu.

Juru Bicara KBRI Canberra, Dino Kusnadi, juga menegaskan dukungan KBRI Canberra dan Wisma Indonesia pada gerakan "Earth Hour" itu sebagai bentuk kepedulian Indonesia pada kampanye pengurangan emisi karbon dan penyelamatan lingkungan.

"KBRI Canberra dan Wisma Indonesia (rumah kediaman Dubes RI) akan mematikan lampu selama satu pada 29 Maret itu. Bagi seluruh staf KBRI Canberra lainnya juga diimbau untuk melakukan hal yang sama selama tidak mengganggu tugas penting hari itu," katanya.

Dino Kusnadi mengatakan, gerakan mematikan lampu secara serempak selama satu jam pada 29 Maret 2008 itu sangat baik untuk mengurangi beban polusi karbon dioksida di bumi. Karena itu KBRI Canberra dan Wisma Indonesia mendukung gerakan ini, katanya.

Seperti harapan Pemimpin WWF-Australia, Greg Bourne, bahwa gerakan "Earth Hour" dapat mendorong setiap orang ikut menyelamatkan bumi dengan melakukan hal-hal sederhana yang bisa mereka lakukan mencerminkan kekuatan pesan "3M" Aa Gym.

Misi penyelamatan bumi dari ancaman pemanasan global yang seakan terbatas menjadi wilayah "negara dan PBB" seperti apa yang tampak di Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim di Bali Desember 2007 lalu sejatinya adalah wilayah tugas "semua orang".

Setiap orang yang sadar akan pentingnya ikut menyelamatkan bumi bisa memulainya dari diri sendiri, dari hal-hal kecil, dan memulainya dari sekarang!

*) My news writing for ANTARA on March 19, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity