Airlangga Utama, pelajar Indonesia yang sedang mengikuti pendidikan persiapan ke universitas, dipukul seorang pemuda mabuk Minggu pagi sekitar pukul 5.45 waktu setempat sampai harus dirawat di Rumah Sakit Royal Adelaide, Australia Selatan, kata seorang pejabat KJRI Sydney.Sekretaris I/Konsul Bidang Kekonsuleran KJRI Sydney, Edy Wardoyo, kepada ANTARA, Senin, mengatakan, kasus pemukulan terhadap Airlangga Utama sepulang dari pub bersama tiga rekannya itu sangat disayangkan namun polisi setempat kabarnya sudah menangkap pelaku pemukulan dan sedang menangani kasusnya.
"Senin pagi ini, langkah kita (KJRI Sydney) adalah mengirim surat ke polisi Adelaide untuk meminta perhatian mereka terhadap kasus pemukulan yang menimpa pelajar kita yang masih mengikuti pendidikan persiapan masuk ke universitas ini. Terlebih lagi dia harus dirawat di rumah sakit," katanya.
Ia mengatakan, polisi sudah mengamankan pelaku walaupun proses hukum terhadapnya akan memakan waktu lama seperti yang selama ini berlaku di Australia.
Edy Wardoyo mengatakan, berdasarkan informasi yang diterima pihaknya dari pelajar Indonesia di Adelaide, Airlangga Utama dipukul pelaku dengan siku di bagian wajah sehingga hidung dan rahang patah. Akibatnya, dia dilarikan ke unit gawat darurat (ICU) dan menjalani operasi pelastik.
"Untungnya bagian leher aman dan dia tidak mengalami geger otak. Sekarang ini, Airlangga sudah dipindahkan ke ruang perawatan khusus. Kasus pemukulan oleh pemuda mabuk ini adalah hal yang biasa dan bisa menimpa siapa saja di Australia," katanya.
Mengenai biaya perawatan Airlangga, Edy mengatakan, Airlangga yang memiliki seorang kakak yang sudah berstatus "permanent resident" di Adelaide ini tampaknya memiliki asuransi kesehatan sehingga diharapkan perusahaan asuransi akan menanggung biaya perawatan dan pengobatannya.
"Kita ingin memastikan bahwa asuransi harus ada karena agak sulit kalau yang bersangkutan tidak memiliki asuransi kesehatan selama di Australia. Sejauh ini, dari informasi yang kita terima, selain sudah menangkap pelaku, polisi di Adelaide juga sudah mencatat nama-nama (sejumlah saksi),"katanya.
KJRI Sydney, lanjut Edy, mengimbau seluruh warga negara Indonesia di manapun, khususnya di Australia Selatan, Queensland, dan New South Wales, sebagai tiga wilayah kerja KJRI Sydney, agar meningkatkan kewaspadaan mereka saat berpapasan dengan para pemabuk di Australia.
"Siapa pun warga Indonesia diminta berhati-hati saat berpapasan dengan kelompok anak muda mabuk di Australia karena saat mabuk mereka biasanya punya 'self-confidence' (rasa percaya diri) yang tinggi ... Tapi saya tidak melihat kasus ini sebagai tindakan penganiayaan yang direncanakan melainkan satu kejadian yang bisa menimpa siapa saja," katanya.
Himbauan perlunya meningkatkan kewaspadaan juga disampaikan Ketua Umum PPIA, Duddy Abdullah. Mahasiswa Universitas Melbourne ini meminta kalangan pelajar dan mahasiswa Indonesia di seluruh Australia agar menghindari sekelompok pemuda mabuk untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
"Kasus pemukulan pelajar kita ini tidak hanya sudah diketahui pihak KJRI Sydney tapi juga sudah diketahui bagian kekonsuleran KBRI Canberra," katanya.
Kronologis kejadian
Sementara itu, terkait dengan kronologis kejadian, Febriyan Hidayat, saksi mata yang ada bersama Airlangga pada saat pemukulan terjadi, menjelaskan, insiden tersebut terjadi pada Minggu pagi sekitar 5.45 waktu setempat di jalan Hindley depan Hotel Rockford ketika dia, Airlangga, Oscar dan Rian hendak menuju halaman parkir mobil di Jalan Rose.
"Saat lagi melintasi Jalan Hindley, kami melihat sekelompok anak muda, jumlahnya sekitar tujuh sampai sembilan orang yang kelihatan lagi mabuk. Kami menyadari mereka tampaknya ingin mencari-cari keributan. Saya berjalan bersebelahan dengan Oscar di sebelah kiri trotoar jalan, sedangkan Airlangga dan Rian berjalan di belakang saya," kata Febriyan.
Oscar yang kebetulan mengenal salah seorang dalam kelompok anak muda mabuk itu mencoba mendekatinya dengan harapan mereka mengurungkan niat untuk berbuat onar. Tapi salah seorang pemuda itu justru mencoba memukul Oscar.
"Untungnya temannya Oscar itu menahan rekannya supaya tidak memukul Oscar dengan berkata 'Don?t hit him guys, I know him, he always playing Bongo (Brazilian drum) at Rundle Mall and Rundle st' (Jangan pukul dia. Saya kenal sama dia karena dia sering main Bongo (drum Brazil) di Mal Rundle dan di Jalan Rundle," kata Febriyan.
Namun provokasi terhadap mereka, kata Febriyan, terus dilakukan oleh anak-anak muda Australia mabuk ini dengan cara mendekati dan menyenggolkan bahu keras-keras ke dirinya dan diri Rian namun mereka berhasil menghindar.
"Pada saat yang sama, seorang lainnya justru berdiri dan langsung memukul muka Airlangga dengan siku kanan. Airlangga yang tidak menyadari situasi (datangnya serangan mendadak-red.) itu tidak bisa menghindar dan tersungkur. Wajahnya menghantam aspal jalan," katanya.
Tak puas hanya bisa memukul satu orang, pemuda yang memukul Airlangga ini juga mencoba memprovokasi dan mengancam akan memukul dirinya, Oscar dan Rian sedangkan rekan-rekan pemuda mabuk itu hanya tertawa-tawa menyaksikan kejadian itu, kata Febriyan.
Anak-anak muda Australia yang mabuk itu kemudian mengeluarkan kata-kata rasis terhadap mereka yang mereka sebut "orang-orang Asia" namun untungnya tak lama kemudian, ada tiga orang lain melintas di jalan itu. Mereka berhenti dan mencoba memberikan pertolongan, katanya.
Ia dan Oscar segera menelepon ambulan dan aparat kepolisian setempat. "Sekitar lima atau sepuluh menit kemudian, polisi datang bersama mobil ambulan. Petugas para medis segera memberikan pertolongan, sedangkan polisi menanyakan kami tentang apa yang terjadi," katanya.
Polisi meminta mereka merinci peristiwa pemukulan itu, meminta identitas nama dan nomor telepon yang dapat dihubungi untuk kepentingan penyidikan lebih lanjut. Tak lama berselang, aparat kepolisian tiba bersama orang yang memukul Airlangga, kata Febriyan.
Penjelasan Febriyan tentang kronoligis kejadian itu tidak hanya diterima PPIA tetapi juga sudah sampai di tangan Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di KBRI Canberra, Dr.R.Agus Sartono,MBA.
Agus Sartono mengatakan, ia sangat menyayangkan kejadian ini. Sebelumnya pada Oktober 2007, Ketua Ranting PPIA di Universitas Victoria, Andi Syafrani, juga pernah mengalami tindak kekerasan saat dua pemuda dan seorang pemudi Australia merampok dirinya di halaman parkir Stasiun Kereta Footscray, Melbourne, negara bagian Victoria.

No comments:
Post a Comment