Wednesday, March 26, 2008

MENHAN RI DAN AUSTRALIA BAHAS ISU TERORISME

Menteri Pertahanan RI Juwono Sudarsono dan Menhan Australia Joel Fitzgibbon, Kamis sekitar pukul 11.00 waktu Canberra, bertemu guna membahas berbagai isu keamanan yang menjadi kepentingan bersama.

Informasi yang diterima ANTARA dari Dephan Australia, Kamis pagi, menyebutkan masalah terorisme, keamanan regional dan perompakan termasuk di antara beberapa isu keamanan yang dibahas kedua Menhan.

Pertemuan kedua Menhan itu merupakan yang pertama sejak Joel Fitzgibbon diangkat Perdana Menteri Kevin Rudd sebagai Menhan dalam kabinet pemerintahannya menggantikan Dr Brendan John Nelson.

Dalam pertemuan yang berlangsung di ruang "Explorer" Gedung Parlemen Canberra itu, kedua Menhan juga berkesempatan membahas masalah keterlibatan pertahanan dan peningkatan kerja sama kedua negara pascapemberlakuan Perjanjian Lombok.

Kementerian Pertahanan Australia menyebut Perjanjian Keamanan Indonesia-Australia yang ditandatangani di Lombok tahun 2006 dan diratifikasi parlemen kedua negara tahun 2007 itu sebagai cerminan "hubungan yang menguat kedua negara".

Kedua negara juga membangun hubungan dan kerja sama pertahanan yang semakin dewasa berdasarkan prinsip saling menghormati dan saling percaya.

Pertemuan Menhan Juwono Sudarsono dengan Menhan Joel Fitzgibbon merupakan bagian dari program kunjungan empat harinya di Australia.

Dalam pertemuan itu, Menhan Joel Fitzgibbon antara lain didampingi Panglima Angkatan Bersenjata Australia (ADF), Marsekal Angus Houston dan Sekretaris Dephan Nick Warner.

Sementara itu, Menhan Juwono didampingi Atase Pertahanan di KBRI Canberra, Marsekal Pertama TNI Kuswantoro, Dirjen Strategi Pertahanan Mayjen TNI Syarifuddin Tippe, Minister Counsellor Bidang Politik KBRI Canberra, Samsu Rizal, dan Staf Ahli Khusus Menhan bidang Ekonomi, Adnan Ganto.

Sebelumnya, Minister Counsellor Bidang Politik KBRI Canberra, Samsu Rizal, mengatakan kepada ANTARA, pertemuan menhan kedua negara ini sangat penting bagi penguatan hubungan bilateral setelah Perjanjian Lombok resmi berlaku sejak 7 Februari lalu.

Bagi Indonesia, pertemuan kedua menhan ini dipandang signifikan untuk melihat bagaimana strategi pertahanan pemerintahan baru Australia di kawasan Asia Pasifik, katanya.

"Sebagai negara sahabat dan tetangga dekat Australia, cukup penting bagi Indonesia untuk, misalnya, melihat bagaimana strategi pertahanan Australia dalam pemerintahan baru. Tentu ada perubahan-perubahan walaupun tidak sampai menjadi gangguan," katanya.

Dalam konteks pemerintahan baru Australia, adanya pertemuan menhan kedua negara itu juga penting karena Canberra pun bisa mendapatkan satu gambaran tentang bagaimana strategi Indonesia di kawasan dalam kaitannya dengan pertahanan, kata Samsu Rizal.

Selama di Australia, selain bertemu Menhan Joel Fitzgibbon, Menhan Juwono Sudarsono hari Rabu (26/3) berbicara di Forum Dialog Asia Timur di Sydney bersama sejumlah tokoh penting, termasuk PM Kevin Rudd.

Dalam forum dialog yang diselenggarakan Universitas Nasional Australia (ANU) di James Cook Ballroom, Hotel Intercontinental, Sydney, itu, para pembicara merespons isu-isu ekonomi dan keamanan politik dengan pendekatan baru.

Selain Menhan Juwono dan PM Rudd, mantan menteri ekonomi Thailand, Chalongphob Sussangkarn, mantan menteri luar negeri Korea Selatan Yoon Young Kwan, Sekjen ASEAN (Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara) Surin Pitsuwan, Pejabat Bank Dunia Justin Lin, serta beberapa tokoh penting Australia, seperti Professor Kim Beazley dan Huw McKay dari Westpac juga hadir dan berbicara di forum tersebut.

PM Rudd sendiri memanfaatkan Forum Dialog Asia Timur itu untuk menjelaskan visi dan peran Australia dalam perpolitikan global, khususnya di kawasan Asia Timur.

Ia mengatakan, Australia akan lebih aktif terlibat dalam merespons isu-isu global, seperti stabilitas keuangan, perubahan iklim, dan keamanan.

Dalam pandangan PM Rudd, upaya Australia menangani masalah ekonomi, lingkungan dan keamanan di dalam negeri akan gagal jika Canberra tidak terlibat dalam perdebatan global.

*) My news for ANTARA on March 27, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity