Thursday, March 27, 2008

GEERT WILDERS, FUNDAMENTALIS PENYEBAR KEBENCIAN

Sejak pekan ini, mata sebagian warga dunia tertuju pada situs "www.liveleak.com". Para pengelola situs ini terbukti gagal mengekang diri untuk tidak ikut-ikutan menjadi saluran para penyebar kebencian di bumi. Mereka mengabaikan seruan banyak pihak yang menentang penayangan film anti-Islam karya Fundamentalis Belanda, Geert Wilders. Alih-alih berempati pada upaya meredakan ketegangan dunia, sekali lagi, mereka justru menyodorkan media mereka menjadi saluran bagi faham kebencian Sang Fundamentalis Belanda – Geert Wilders -- untuk menyebarkan virus kebenciannya terhadap Islam dan umat Islam atas nama apa yang disebutnya kebebasan berpendapat, demokrasi, dan perlindungan terhadap nilai-nilai Barat. Apakah memang kebebasan berpendapat harus melukai hati dan menista keyakinan banyak orang? Adalah sangat berbahaya jika pemahaman yang keliru semacam ini dimiliki oleh umumnya masyarakat di Barat. Para fundamentalis yang oleh media massa Barat selalu dibatasi maknanya pada radikalis yang ada di antara umat Islam sesungguhnya juga ada dan nyata ada di antara umat beragama lain, termasuk Kristen, Hindu, Yahudi, dan bahkan di antara mereka yang tidak memercayai adanya tuhan sekali pun. Para fundamentalis sejatinya tidak terbatas pada penganut agama tertentu seperti orang-orang yang ditampilkan Geert Wilders dengan teknik pembingkaian media (media framing) yang tidak simpatik dalam film dokumenter pendeknya itu. Kaum fundamentalis itu juga ada dalam tubuh pemerintahan, parlemen, kampus-kampus, dan media massa Barat sendiri. Geert Wilders adalah contoh nyata dari sosok fundamentalis Barat tersebut! Apa yang dapat kita katakan kepada orang seperti Geert Wilders, para pengelola situs "www.liveleak.com" maupun para arsitek perang Irak di Gedung Putih dan senat Amerika Serikat, serta para pengambil keputusan di negara-negara yang mendukung invasi Irak dan Afghanistan? Pendek kata kepada mereka yang dengan entengnya menggunakan kekerasan fisik dan psikis untuk memaksakan kebenaran yang mereka yakini atas orang-orang dan bangsa-bangsa lemah kecuali sebutan "fundamentalis". Akibat dari perbuatan mereka, rakyat tidak berdosa di Irak, Afghanistan, Tibet, Uighur (China) dan banyak tempat lain di bumi tewas di ujung peluru, misil, dan bom mereka. Tindakan kekerasan itu juga dilakukan oleh para fundamentalis lain di Irak, Afghanistan, Amerika, Inggris, Spanyol, India, dan Indonesia dengan mengatasnamakan agama. Mereka yang berjas dan berdasi, yang duduk manis di balik meja di dalam gedung-gedung pemerintah, kampus, dan media massa yang mentereng tapi ikut menebar kekerasan fisik dan psikis kepada dunia sejatinya adalah juga fundamentalis. Mereka ini tidak ubahnya sama dengan para fundamentalis dari kelompok-kelompok yang sejak jauh sebelum insiden 11 September 2001 maupun Bom Bali 2002 mereka perangi. Pertarungan di antara para fundamentalis dengan berbagai argumentasinya (Clash of Fundamentalism) itu telah menista nilai-nilai luhur kebebasan dan demokrasi yang mereka yakini sendiri. Sejatinya, apa yang dilakukan oleh Fundamentalis Belanda Geert Wilders secara telanjang dalam film dokumenternya yang menista Al Qur’an (kitab suci kaum Muslimin) melalui situs “www.liveleak.com” hanyalah bagian dari femonema gunung es "penistaan agama", khususnya Islam secara global. Mereka ini sebenarnya sadar bahwa apa yang mereka lakukan hanya akan melanggengkan lingkar kebencian, kesalahpahaman, dan kekerasan di dunia. Dan, yang menjadi korban dari pertikaian mereka dengan orang-orang yang selama ini mereka buru dari balik pegunungan Afghanistan, dari sudut-sudut kampung dan kota Irak, dari hutan-hutan wilayah selatan Thailand dan Filipina adalah orang-orang moderat yang merupakan mayoritas dalam masyarakat Muslim dan non-Muslim di manapun. Geert Wilders telah memelihara phobia terhadap Islam di negaranya dan di negara-negara Barat lainnya dengan cara yang sangat salah. Dia tak ada bedanya dengan para fundamentalis berjas dan berdasi, berbaju loreng maupun yang hanya bersandal jepit karena mereka telah mengorbankan kita semua: kaum moderat yang tidak bersalah dalam pertarungan antarmereka, kaum fundamentalis !!!

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity