Pemerintah Australia mengecam seruan Pemimpin Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Abu Bakar Ba'asyir, untuk melakukan tindak kekerasan terhadap para turis Australia."Komentar-komentar Abu Bakar Bashir konsisten dengan pandangannya yang selama ini sudah diketahui dan tak lebih dari sikap fanatiknya. Saya mengutuk pandangan-pandangannya ini," kata Menteri Luar Negeri Stephen Smith, Senin.
Dalam pernyataan persnya yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) Australia itu, Menlu Smith mengatakan, ia akan tetap mengutuk pernyataan Ustadz Ba'asyir yang mengancam keselamatan warga Australia dan warga asing di Indonesia.
Ia mengatakan, kerja sama Australia dan Indonesia dalam apa yang disebutnya "kontra terorisme" akan terus berlangsung dan "tetap kuat".
Pada Februari lalu, ia bersama Menlu Nur Hassan Wirajuda di Perth telah pun sepakat untuk memperpanjang masa nota kesepahaman kerja sama kontra terorisme kedua negara hingga tiga tahun ke depan.
"Kami juga sepakat untuk mengadakan forum konsultatif bilateral mengenai masalah kontra terorisme tahun ini guna meningkatkan kerja sama kontra terorisme dalam kaitannya dengan Perjanjian Lombok (Perjanjian Keamanan Indonesia-Australia-red.)," katanya.
Menlu Smith mengatakan, Pemerintah Indonesia pun secara konsisten memberikan perhatian khusus terhadap pernyataan apapun yang berisi ancaman terhadap warga negaranya maupun warga negara asing.
Ia mengatakan, Indonesia senantiasa "waspada" terhadap setiap ancaman terorisme dan berhasil menumpas para pelaku aksi kekerasan terorisme.
Keberhasilan Indonesia
Setidaknya sudah 180 orang pelaku berbagai aksi penyerangan sejak 2000 di Indonesia dihukum, katanya.
Seruan kontroversi pemimpin Majelis Mujahiddin Indonesia (MMI) itu mencuat ke publik Australia setelah media setempat, Senin, mempublikasi apa yang diklaim sebagai isi rekaman video ceramah agamanya di depan ratusan warga desa di Jawa Timur, Oktober 2007.
ABC misalnya menyebut Ba'asyir dalam ceramahnya yang diabadikan dalam bentuk video oleh seorang peneliti universitas di Darwin, Australia, antara lain menganjurkan jamaahnya untuk memukul para turis asing yang tidak menghormati cara-cara Islami.
Ba'asyir seperti dikutip ABC dari isi video itu juga meminta jamaah pengajiannya agar "tidak menoleransi" para turis non Muslim yang dianalogikannya bak "ulat, ular, dan belatung yang merangkak".
Ba'asyir menyebut para turis yang mempertontonkan kulit tubuh mereka di pantai pasir seperti di Bali itu, menurut Ba'asyir, telah menghancurkan nilai-nilai moral.
Australia kehilangan 88 orang warganya yang sedang berlibur di Pulau Bali dalam sebuah serangan kelompok Amrozi Cs pada 12 Oktober 2002.
Dalam insiden yang menghentakkan industri pariwisata Indonesia itu, total jumlah korban yang tewas mencapai 202 orang dan yang luka 209 orang.
Ustad Ba'asyir sempat dikait-kaitkan dengan insiden Bom Bali 2002 ini dan pada 3 Maret 2005, tokoh Islam kelahiran Jombang 17 Agustus 1938 itu divonis bersalah dalam Bom Bali 2002 dan dihukum 2,6 tahun penjara. Ia dibebaskan pada 14 Juni 2006.
Tiga tahun setelah insiden 12 Oktober 2002 terjadi, Bali kembali diguncang serangan bom bunuh diri kelompok teroris Malaysia, Nordin M.Top, pada 1 Oktober 2005.
Dalam insiden serangan itu, sedikitnya 23 orang tewas dan 196 lainnya luka-luka. Empat orang di antara mereka yang tewas adalah warga Australia.
*) My news for ANTARA on March 24, 2008

No comments:
Post a Comment