Thursday, March 6, 2008

AUSTRALIA DIMINATI SISWA INDONESIA WALAU BIAYA STUDI "MEMBENGKAK"

Minat para pelajar dan mahasiswa Indonesia melanjutkan pendidikan ke Australia tetap tinggi namun terus menguatnya nilai tukar dolar Australia terhadap Rupiah telah menyebabkan semakin mahalnya biaya studi di negara itu.

Kondisi ini bukan tidak disadari pihak pengelola pendidikan di Australia, kata Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di KBRI Canberra, Dr.R.Agus Sartono, MBA dalam penjelasannya kepada ANTARA, Kamis, sehubungan dengan kondisi pendidikan di Australia.

Pada seminar "Indonesian Market Intelligence" di kampus Universitas Teknologi Queensland (QUT) Brisbane, 26 Februari lalu, Tony Mitchener, mantan atase pendidikan di Kedubes Australia di Jakarta yang kini komisioner perdagangan dan investasi Australia, mengakui bahwa biaya studi yang harus ditanggung para pelajar dan mahasiswa Indonesia di negaranya semakin mahal.

"Tony menyampaikan bahwa menguatnya (nilai tukar) dolar Australia dari tahun 2002 hingga 2007 telah mengakibatkan biaya studi semakin mahal. Jika pada 2002 satu dolar Australia sama dengan Rp5,000, tapi pada 2007 naik menjadi Rp8.500 per dolar Australia," kata Agus Sartono.

Hanya saja, seperti yang disampaikan Direktur IDP Education Pty Ltd untuk Indonesia Isla Rogers, Australia masih menjadi tujuan utama pendidikan banyak pelajar Indonesia ditandai dengan membanjirnya pengunjung di setiap penyelenggaraan pameran pendidikan Australia di Tanah Air, katanya.

IDP Education Pty Ltd (IDP) adalah organisasi pendidikan internasional independen Australia yang memiliki 52 jaringan kantor dan cabang di 30 negara, termasuk Indonesia.

Agus Sartono mengatakan, keberadaan lebih dari 16 ribu orang pelajar dan mahasiswa Indonesia di Australia, serta adanya puluhan ribu alumni Australia di Tanah Air merupakan aset "sangat strategis" bagi penguatan hubungan bilateral kedua negara.

"Tetapi sayangnya rasio mahasiswa Australia yang belajar di Indonesia dibanding dengan mahasiswa Indonesia di Australia sangat kecil. Hal ini merupakan tantangan bagi perguruan tinggi di Indonesia untuk secara sistematis berupaya memosisikan diri sebagai tempat yang layak untuk belajar bagi mahasiswa asing," katanya.

Keberadaan mahasiswa asing, termasuk Australia, di kampus-kampus Indonesia akan memberikan tiga manfaat sekaligus.

Secara ekonomis, kehadiran mereka memberikan kontribusi yang substansial. Mereka pun bisa menjadi "supply brain power for research" (pemasok kekuatan riset) dan mereka juga kelak akan menjadi "duta" bangsa Indonesia di negara mereka, kata Agus Sartono.

"Pada 2008 ini, berbagai universitas di Australia akan kedatangan sedikitnya 172 orang mahasiswa pasca sarjana Indonesia. Mereka seluruhnya adalah para dosen dari berbagai Perguruan Tinggi negeri dan Swasta seluruh Indonesia."
"Mahasiswa tersebut sepenuhnya dibiayai oleh Depdiknas sebagai bagian dari penyediaan beasiswa yang sangat besar. Langkah ini sangat strategis sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia," katanya.


Peluang kerja sama
Dilihat dari peluang kerja sama di bidang pendidikan, kedua negara memiliki kesempatan yang besar baik di tingkat pendidikan tinggi maupun pendidikan dasar dan menengah, katanya.

Di bidang pendidikan tinggi, selain program pertukaran pelajar dan publikasi serta riset bersama, kerja sama antaruniversitas Indonesia dan Australia bisa juga dikembangkan ke arah supervisi bersama tesis mahasiswa dan program gelar akademis ganda, katanya.

"Bahkan kedua pihak juga bisa mengembangkan 'short course program' seperti yg dilakukan 52 mahasiswa pascasarjana Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Universitas Griffith," kata Agus Sartono.

Di bidang pendidikan dasar dan menengah, kerja sama juga sangat terbuka karena saat ini hampir di setiap kabupaten dan provinsi di Indonesia, sudah ada rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI).

"Di tingkat SD terdapat 140 SBI, tingkat SMP sebanyak 170 SBI, tingkat SMA sebanyak 250 SBI. Kerjasama pendidikan vokasi/politeknik juga terbuka. Perlu diingat bahwa di Perguruan Tinggi di Indonesia juga terdapat program D3 dan ini terbuka kesempatan untuk melakukan kerjasama dengan TAFE/VET di Australia," katanya.

Dalam pandangan Agus Sartono, saat ini adalah momentum yang tepat untuk meningkatkan kerjasama pendidikan sekaligus memperkuat hubungan bilateral," katanya.

Dalam meraih peluang pasar para pelajar dan mahasiswa asing, termasuk asal Indonesia, pemerintah negara-negara bagian di Australia saling bersaing sehat, katanya.

"Menurut Tony Mitchener, kesadaran masyarakat Indonesia tentang Brisbane (ibukota negara bagian Queensland) misalnya masih rendah," katanya.

Untuk itu, diperlukan upaya yang sistematis dan aktif dalam berbagai pameran untuk mempromosikan Brisbane denganlebih gencar di Indonesia. Tidak adanya penerbangan langsung kota-kota di Indonesia dan Brisbane adalah kelemahan lain yang perlu mendapat perhatian, katanya.

Apa yang terus dikerjakan para pemangku kepentingan (stake holders) sektor pendidikan di Australia, seperti pengelola lembaga pendidikan, pemerintah kota dan pemerintah negara bagian di Australia, untuk menarik sebanyak mungkin pelajar dan mahasiswa asing ke daerah mereka, patut dicontoh Indonesia, katanya.

Penyelenggaraan seminar tentang "Indonesian Market Intelligence" di QUT itu adalah satu contoh. Beberapa pelajaran sangat penting yang dapat dipetik dari seminar di QUT itu adalah pertama perguruan tinggi sadar betul akan arti penting promosi dan upaya 'positioning' dalam persaingan global untuk mendapatkan mahasiswa terbaik.

"Perguruan tinggi kita pun sudah saatnya melakukan hal yang sama secara sistematis. Kedua, semua 'stakeholders' (pemangku kepentingan) sadar betul arti pentingnya mahasiswa asing, baik bagi pendidikan maupun masyarakat secara luas," kata Agus Sartono.

Keberadaan mahasiswa asing memberikan efek beruntun yang besar. Pemerintah negara bagian juga memberikan dukungan yang penuh bagi setiap upaya mempromosikan daerahnya.

"Kiranya setiap propinsi kita perlu bekerjasama dengan perguruan tinggi di daerahnya untuk melakukan langkah-langkah strategis seperti yang telah dan terus dikembangkan Australia,"katanya menambahkan.

Kehadiran mahasiswa asing di Australia memberikan sumbangan besar bagi perekonomian negara itu. Bahkan sektor pendidikan Australia sudah menjadi bisnis jasa terbesar yang mampu menggeser posisi pariwisata sebagai penghasil devisa.

Seperti dilaporkan Harian "The Australian", pada 2007, sektor pendidikan menghasilkan pendapatan sebesar 12,5 miliar dolar Australia atau naik 21 persen dari pendapatan tahun sebelumnya.

Kini, terdapat lebih dari 450 ribu orang mahasiswa asing yang belajar di berbagai perguruan tinggi di negara berpenduduk 21 juta jiwa itu.

*) My news item for ANTARA on March 6, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity