Sunday, February 17, 2008

ILMUWAN AUSTRALIA BERBURU KUBURAN MASSAL DI TIMOR LESTE

Sebuah tim kecil ilmuwan Australian yang diketuai antropolog forensik, Dr.Soren Blau, berencana bertolak ke Dili, Timor Leste, pekan depan untuk meneliti apa yang disebut kuburan massal korban kekerasan di masa Indonesia.

Dr.Soren seperti dikutip ABC, Senin, mengatakan, pihaknya akan bekerja sama dengan pihak keluarga korban dan saksi mata dalam mengindentifikasi lokasi-lokasi kuburan massal di negara yang terus didera konflik berdarah sejak merdeka dari PBB tahun 2002 itu.

Timor Leste adalah provinsi ke-27 Negara Kesatuan RI (1976-1999) sebelum mendapat kemerdekaan dari PBB sebagai konsekuensi dari kemenangan kubu pro-kemerdekaan dalam penentuan pendapat yang diselenggarakan Misi PBB di Timor Timur (Unamet) tahun 1999.

Saat masih menjadi bagian dari Indonesia, beberapa insiden kekerasan sempat terjadi namun insiden yang paling mengundang sorotan publik internasional adalah penembakan aparat keamanan terhadap para demonstran di pemakaman Santa Cruz 12 November 1991.

Jumlah korban versi mantan panglima TNI saat itu, Jenderal TNI Try Sutrisno, tercatat 19 korban tewas dan 91 orang luka-luka. Namun media Australia menyebut jumlah warga yang tewas antara 200 hingga 400 orang. Penggalian kuburan massal itu dimaksudkan untuk mengidentifikasi para korban namun upaya pengidentifikasian tersebut juga bergantung pada keutuhan sisa tulang belulang jenazah korban, kata Dr.Soren Blau.

Timor Leste tidak kunjung keluar dari lingkar kekerasan sejak resmi merdeka pada 20 Mei 2002. Pada 11 Februari lalu, kelompok gerilyawan pimpinan Alfredo Reinado bahkan menyerang Presiden Jose Ramos Horta dan Perdana Menteri Xanana Gusmao. Keduanya selamat dalam serangan itu namun Presiden Horta menderita dua luka tembak di tubuhnya dan masih dirawat di Rumah Sakit Royal Darwin.

Insiden serangan Senin dini hari (11/2) lalu itu memperpanjang peristiwa berdarah yang mendera negara kecil tetangga Indonesia dan Australia itu sejak 2006 lalu. Pertikaian berdarah itu setidaknya telah menewaskan 37 orang dan mengakibatkan 155 ribu warga meninggalkan rumah-rumah mereka.

Pemerintah Timor Leste bergantung pada bantuan tentara dan polisi asing untuk memulihkan stabilitas. *) the news that I make for ANTARA on Monday, Feb 18,2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity