Friday, February 22, 2008

EMPAT PENELITI INDONESIA JADI MITRA RISET SAINS UNSW AUSTRALIA

Empat orang ilmuwan Indonesia bersama lebih dari 81 orang peneliti kelas dunia asal Asia ditunjuk Universitas New South Wales (UNSW) Australia menjadi mitra riset mereka di bidang sains, teknik, dan kedokteran.

Ke-empat peneliti Indonesia itu adalah Dr.Abdul Muis (Fakultas Teknik UI), Dr.Sita Andarini (FK-UI), Dr.Idam Arif (ITB), dan Dr.Riyanto Bambang (ITB), kata Catharina Nawangpalupi, mahasiswi program doktor UNSW yang menjadi duta bagi delegasi Indonesia, kepada ANTARA, Jumat.

Sedikitnya 85 orang peneliti dari China, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Thailand dan Vietnam itu mengikuti lokakarya kolaborasi riset internasional pertama UNSW dengan kawasan Asia selama tiga hari, katanya.

"Ke-empat anggota delegasi kita ini tiba 20 Februari lalu dan mengikuti lokakarya di UNSW hingga Jumat," katanya.

Lokakarya yang berlangsung di kampus Kensington ini merupakan langkah penjajakan UNSW untuk memperkuat kolaborasi risetnya di bidang sains, teknik dan medis dengan para peneliti kelas dunia dari berbagai universitas di 10 negara Asia itu, katanya.

Catharina mengatakan, sejak Maret 2008, para peneliti yang menjadi peserta lokakarya itu, termasuk empat orang asal Indonesia, akan menjadi mitra UNSW selama tiga tahun.

Sebenarnya ada seorang lagi peneliti Indonesia asal UI yang diundang mengikuti lokakarya ini tapi gagal datang karena terkendala masalah visa, katanya.

"Peneliti kita ini bukanlah satu-satunya yang tidak bisa datang karena kendala visa tetapi ada tujuh orang (dari berbagai negara) lainnya yang juga mengalami masalah yang sama. Dari 96 orang yang diundang, hanya 88 orang yang hadir," katanya.

Para peneliti Australia dan Asia itu nantinya akan memfokuskan kegiatan riset mereka pada masalah-masalah seperti penyakit kanker, HIV, infeksi, syaraf, nano sains, bioteknologi, biomedik, pengelolaan air limbah, teknologi informasi, ilmu-ilmu membran, robotik, dan pengembangan sumber energi yang dapat diperbarui, katanya.

Sementara itu, informasi yang dihimpun ANTARA dari UNSW menyebutkan, kolaborasi pertama UNSW dengan para peneliti kelas dunia asal Asia itu merupakan upaya menjawab berbagai tantangan yang dihadapi bersama oleh Australia dan kawasan Asia.

Kolaborasi riset dengan Asia di tiga bidang itu akan memperkuat hubungan akademis dengan Asia yang sebenarnya sudah lama terjalin dengan universitas-universitas Barat.

Dekan Fakultas Kedokteran UNSW, Prof.Peter Smith, mengatakan, meningkatnya standar hidup di Asia yang demikian cepat berarti masalah-masalah kesehatan, seperti kekurangan gizi, kini digantikan oleh tantangan lain yang juga dihadapi masyarakat Barat.

Tantangan-tantangan tersebut adalah populasi usia tua, penyakit kanker, penyakit infeksi baru, dan obesitas, katanya.

Adanya masalah-masalah bersama dalam pembangunan bidang kesehatan di kawasan Asia Pasifik ini merupakan peluang besar bagi para peneliti Australia dan Asia untuk bekerja sama, kata Prof.Smith.

Setidaknya ada 45 universitas terkemuka di Asia yang berpartisipasi dalam program kemitraan riset dengan UNSW yang akan menfasilitasi program pertukaran staf akademis dan mahasiswa di antara kedua pihak.

UNSW adalah anggota "Group of Eight", yakni kelompok delapan perguruan tinggi papan atas Australia yang menjadi ujung tombak bidang penelitian di Australia.

Tujuh universitas lainnya adalah Universitas Queensland, Universitas Melbourne, Universitas Nasional Australia, Universitas Adelaide, Universitas Australia Barat, Universitas Sydney, dan Universitas Monash.

*) my news for ANTARA on Feb 22, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity