Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Sydney mengklaim jumlah pemilih tetap untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 8 Juli 2009 di wilayah pemilihan yang menjadi tanggungjawabnya mencapai 20.921 orang atau meningkat lebih dari 4.000 orang dari jumlah pemilih terdaftar Pemilu legislatif 9 April lalu."Jumlah pemilih yang masuk Daftar Pemilih Tetap (DPT) kita untuk Pilpres 8 Juli 2009 mencapai 20.921 orang. Kita sudah mengirim datanya ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jakarta pada 27 Mei lalu," kata Anggota PPLN yang juga Minister Counselor Fungsi Pensosbud KJRI Sydney, Pratito Soeharyo.
Dalam penjelasannya kepada ANTARA, Minggu, Pratito mengatakan, jumlah warga negara Indonesia yang masuk DPT Pilpres lebih tinggi dari DPT Pemilu legislatif 9 April lalu karena ada ribuan orang pendaftar baru. "Kita menambahkan nama-nama mereka ke DPT Pilpres," katanya.
Pratito mengatakan, pihaknya optimistis bahwa angka partisipasi riil pemilih pada Pilpres akan lebih tinggi dari Pemilu legislatif karena para pemilih yang sebelumnya tidak datang ke tempat pemungutan suara (TPS) karena bingung akibat banyaknya partai politik peserta pemilu atau sebab-sebab lain kini tertarik berpartisipasi.
"Kita harapkan setidaknya sembilan ribu orang akan menggunakan hak pilihnya. Pada 9 April lalu, ada enam ribuan orang pemilih yang menyalurkan hak pilihnya di seluruh wilayah PPLN Sydney," katanya.
Pada Pemilu legislatif 9 April yang berakhir dengan kemenangan besar Partai Demokrat (PD), ANTARA mencatat besarnya ketimpangan antara jumlah warga yang masuk DPT dan angka partisipasi riil pemilih.
Ketimpangan besar antara angka partisipasi riil pemilih dan DPT itu dialami PPLN Sydney yang bertanggungjawab terhadap sedikitnya 16.200 orang pemilih terdaftar dan PPLN Melbourne dengan jumlah DPT mencapai 11.575 orang.
Ketimpangan DPT-partisipasi riil
Anggota PPLN Melbourne, Abelian Yodha, mengakui ketimpangan besar DPT dan jumlah warga terdaftar yang mencentang di TPS Konsulat Jenderal RI Melbourne.
"Jumlah pemilih yang mencentang 1.124 orang dan yang sudah konfirmasi untuk memilih lewat surat pos sebanyak 2.109 orang. Jadi tingkat partisipasi pemilih (di wilayah kerja PPLN Melbourne-red.) masih kecil," kata anggota PPLN yang membawahi wilayah pemilihan negara bagian Victoria dan Tasmania itu.
Ketimpangan besar antara DPT dan angka partisipasi rill pemilih juga di terjadi di negara bagian New South Wales (NSW), Queensland, dan Australia Selatan yang merupakan wilayah kerja PPLN Sydney.
Data pemilih yang mencentang di TPS-TPS yang ada di seluruh wilayah kerja PPLN Sydney tercatat kurang dari 5.500 orang sedangkan jumlah warga yang nama-namanya masuk DPT mencapai 16.200-an orang.
Di TPS Brisbane yang berlokasi di salah satu ruang Teater Schonell Kampus Universitas Queensland, St.Lucia, misalnya, hanya ada 458 orang yang memilih padahal warga yang masuk DPT berjumlah 1.406 orang.
Menanggapi ketimpangan DPT dengan angka partisipasi riil pemilih di beberapa wilayah kerja PPLN, Presiden Pusat Informasi dan Pelayanan PKS Australia-Selandia Baru (PIP PKS ANZ), Muhamad Arifin, mengatakan, dia tidak mengetahui data riil WNI di seluruh Australia mengingat tingginya arus masuk-keluar WNI, khususnya Sydney.
"Di antara arus masuk-keluar WNI yang sangat tinggi ada di kalangan mahasiswa dan ekspatriat. Saya melihat masalah validitas DPT PPLN ini sebagai bagian dari fenomena global dari persoalan sistim pendataan kependudukan Indonesia," katanya.
Terlepas dari ketimpangan tersebut, Muhamad Arifin mengatakan, pihaknya justru mencatat adanya kenaikan angka partisipasi politik warga Indonesia di Australia pada Pemilu 9 April 2009 sebesar 11 persen dari angka partisipasi pemilih pada Pemilu legislatif 2004.
Pihaknya mencatat total jumlah pemilih yang mencentang pada Pemilu 2009 di Melbourne, Darwin, Sydney, Canberra, dan Perth mencapai 7.445 atau naik dari jumlah pemilih pada Pemilu 2004 yang tercatat 6.737 orang.
*) My news for ANTARA on May 31, 2009

No comments:
Post a Comment