Pemerintah Australia meningkatkan status peringatan perjalanannya kepada Zimbabwe dari level empat ke level lima yang berarti melarang semua warga negaranya untuk mengunjungi negara itu karena alasan keamanan.Bagi warga negara Australia yang berada di Zimbabwa dan khawatir dengan keselamatan dirinya, mereka juga diminta untuk mempertimbangkan upaya keluar dari negara itu jika dirasa aman, demikian informasi "Smartraveller" Kementerian Luar Negeri Australia yang dikutip ANTARA, Selasa malam.
Pemerintah Australia menilai kondisi keamanan di negara yang baru memilih kembali Robert Mugabe sebagai presiden lewat Pemilu yang hanya diikuti Mugabe dan ditolak oleh pemimpin oposisi Morgan Tsvangirai itu sangat rentan dengan berbagai aksi kekerasan politik dan kejahatan.
Australia juga menilai Zimbabwe tidak aman karena hilangnya penegakan hukum dan jeleknya perekonomian negara itu yang antara lain ditandai dengan hiperinflasi, kekurangan stok pangan, dan angka pengangguran yang tinggi.
Presiden Mugabe kembali dilantik untuk periode ke enam kalinya setelah dinyatakan sebagai pemenang pemilu yang digelar Jumat lalu.
Tsvangirai sebagai pemimpin oposisi memboikot penyelenggaraan Pemilu itu sebagai protes atas aksi kekerasan dan intimidasi terhadap sebagian calon pemilih.
Dengan pemberlakuan larangan perjalanan total untuk Zimbabwe, berarti jumlah negara yang mendapat status yang sama bertambah menjadi sembilan. Selain Zimbabwe, Australia juga melarang warganya mengunjungi Afghanistan, Burundi, Republik Afrika Tengah, Chad, Comoros, Irak, Somalia, dan Sudan.
Sebelumnya, Australia memasukkan Zimbabwe ke daftar negara dengan status peringatan perjalanan level empat bersama dengan Indonesia, Aljazair, Angola, Republik Demokrasi Kongo, Timor Leste, Eritrea, Etiopia, Haiti, Liberia, Nigeria, Pakistan, Saudi Arabia, Sri Lanka, dan Yaman.
Selama ini negara Afrika bagian selatan yang merdeka dari Inggris sejak 18 April 1980 itu dikenal kalangan wisatawan mancanegara karena Air Terjun Victorianya yang indah.
*) My news for ANTARA on July 1, 2008

No comments:
Post a Comment