Wednesday, June 11, 2008

PEMIMPIN OPOSISI AUSTRALIA BERTEMU DALAI LAMA

Pemimpin Oposisi Australia, Brendan Nelson, di Sydney, Rabu, bertemu Pemimpin Spritual Tibet di pengasingan, Dalai Lama.

Nelson seperti dikutip ABC, Rabu, mengatakan, ia merasa terhormat bisa bertemu Dalai Lama dan rakyat Australia menghargai kunjungan lima harinya di negara itu.

Namun tokoh spiritual Tibet yang dalam kunjungannya ke Australia akan memberikan pengajaran meditasi di Dome Sydney, Showground, Taman Olimpiade Sydney, Homebush, ini gagal bertemu Perdana Menteri Kevin Rudd karena masih berada di Tokyo.

Kendati gagal bertemu PM Rudd, ABC melaporkan Dalai Lama akan bertemu Menteri Luar Negeri Stephen Smith dan Pemimpin Pemerintah di Senat Australia, Chris Evans, pekan ini.

Pemerintah China sudah berulang kali menyatakan keberatannya kepada pemimpin pemerintah asing manapun yang bertemu Dalai Lama karena di mata Beijing pemenang Nobel Perdamaian itu merupakan tokoh pembangkang yang mengancam kedaulatan China.

Keberatan Pemerintah China juga sempat dilayangkan ke Pemerintah Inggris ketika Perdana Menteri Gordon Brown menerima Dalai Lama bulan lalu.

Dalam konteks hubungan bilateral Australia-China, masalah Tibet, termasuk eksistensi Dalai Lama selaku tokoh spiritual dan simbol perjuangan rakyat Tibet, sering memicu "riak-riak" dalam dinamika hubungan diplomasi kedua negara sejak 1990-an.

Kondisi ini diperparah oleh adanya dukungan dan simpati sebagian publik Australia terhadap Dalai Lama dan perjuangan rakyat Tibet untuk merdeka dari China.

Dukungan di tingkat publik Australia bagi Dalai Lama itu bukan lagi cerita baru.

Universitas Melbourne misalnya pernah menganugerahi tokoh penerima hadiah Nobel Perdamaian ini dengan gelar doktor honoris causa di bidang hukum.

Dukungan politik etis bagi dirinya juga datang dari Dewan Tibet Australia (ATC) dan Universitas Nasional Australia (ANU) sebagaimana tampak dari pemuatan rencana kegiatan kunjungan Dalai Lama ke Australia dalam situs resmi ANU tahun lalu.

Riak-riak kecil dalam hubungan kedua negara sempat mencuat ke ranah publik pada Mei 2007 ketika Pemerintah China mengingatkan para pemimpin politik Australia untuk tidak bertemu Dalai Lama selama kunjungan sepuluh harinya di negara itu pada Juni 2007.

Kegusaran Cina terhadap tokoh spiritual Tibet ini tiada lain karena Beijing tetap menganggapnya sebagai ancaman disintegrasi Tibet dari China.

Dalam kerusuhan berdarah di Lasha pada pertengahan Maret 2008 lalu pun, pemerintah China menuding Dalai Lama sebagai dalangnya. Namun Dalai Lama membantahnya dengan menyebut tuduhan Beijing tersebut sebagai "tidak berdasar sama sekali".

*) My news for ANTARA on June 11, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity