Kapal yang dinakhodai Mayor Laut (P) Eko Deni Hartono itu meninggalkan dermaga Markas Angkatan Laut Australia (RAN) "Bulimba", Brisbane, sekitar pukul 14.00 waktu setempat.
Kapal sempat bermanuver untuk memberi penghormatan kepada barisan kehormatan perwira Indonesia dan Australia yang melepas kepergian Arung Samudera sebelum menuju laut lepas.
Di antara mereka yang ada dalam barisan kehormatan itu adalah Atase Laut KBRI Canberra Kolonel Laut Eden Gunawan dan dua perwira Angkatan Laut Australia Letnan Komander (Mayor) Larry Cook dan Letnat Komander (Mayor) Merv Russel dari Pangkalan AL Australia "Bulimba" Brisbane.
Sekitar satu jam sebelum kapal diberangkatkan, dilakukan apel yang diikuti sejumlah awak kapal. Mereka mendapat pengarahan dari Komandan Kapal Mayor Laut (P) Eko Deni Hartono dan Atase Laut KBRI Canberra Kolonel Laut Eden Gunawan.
Setelah dilakukan berbagai kesiapan mulai dari pemuatan logistik, perangkat dapur, pengecetan beberapa bagian kapal yang terkelupas karena bergesekan saat bersandar dan pengisian oli "centre boat" untuk kepentingan stabilsasi kapal hingga penaikan bendera Merah Putih berukuran besar, kapal baru resmi bergerak.
Kesedihan tampak membalut muka banyak awak KRI karena dua setengah jam sebelum kapal berangkat, beberapa orang Indonesia yang telah sempat bergaul dan bersahabat dengan Mayor Eko Deni Hartono dan anak-anak buahnya selama sembilan bulan datang untuk melepas kepergian mereka.
Rasa kehilangan juga diungkapkan Letnan Komander Larry Cook. Kepada ANTARA yang menemuinya di sela-sela acara pelepasan KRI Arung Samudera, Cook mengatakan, ia sudah mengenal Mayor Eko Deni Hartono dan belasan anak buahnya sejak kapal latih itu mengalami musibah 23 Agustus 2007.
"Mayor Eko Deni dan semua anak buah kapal adalah orang-orang yang menyenangkan dan baik. Sedih melepas mereka pergi. Saya sangat suka sama kru-kru Indonesia ini. Tapi saya juga bersyukur bahwa kapal ini kembali berada dalam kondisi baik," katanya.
Cook mengatakan, sejak awal musibah yang melanda KRI Arung Samudera akibat badai dan cuaca buruk yang belum pernah ada dalam sejarah iklim di Queensland Agustus lalu ia sudah menyampaikan selamat kepada sang komandan kapal (Mayor Eko Deni) karena di bawah kepemimpinannya di tengah cuaca yang "sangat ganas" (horrible), semua awak selamat.
Momen keberangkatan kapal layar tiang tinggi buatan Selandia Baru itu turut diliput Stasiun Televisi "Saluran 10". Rute kepulangan KRI Arung Samudera adalah Brisbane-Cairns-Darwin-Kupang dan Surabaya.
Kapal layar tiang tinggi TNI AL itu mengalami kerusakan setelah dihadang cuaca buruk yang ditandai dengan angin berkecepatan 80 hingga 100 kilometer per jam sebanyak dua kali pada 23 Agustus 2007 dinihari. Musibah itu merusak layar utama dan sebuah layar depan.
Selain itu, satu layar lainnya juga terlipat dan baja bagian bawah yang berfungsi sebagai penyeimbang atau "stabilizer" kapal bengkok. Musibah yang menimpa kapal latih TNI AL itu terjadi dalam pelayarannya dari Cairns ke Brisbane.
Pelayaran KRI Arung Samudera ke Australia itu dimaksudkan untuk ikut menyemarakkan penyelenggaraan KTT Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Sydney pada 8-9 September 2007 bersama enam kapal layar tiang tinggi Australia.
Akibat musibah tersebut, KRI Arung Samudera tidak bisa ikut dalam parade kapal layar tiang tinggi di Sydney namun seluruh awaknya tetap ikut menyaksikan parade kapal-kapal layar tiang tinggi Australia yang menjadi bagian dari rangkaian acara APEC 2007.
Perbaikan kapal berbobot 120 ton yang sebelum dibeli pemerintah RI bernama "Advanture" ini rampung pada 16 April lalu. Perbaikan yang dilakukan di fasilitas dok milik "Viking Industries Limited" Brisbane melalui anak perusahaannya, "Marine Application" memakan waktu sekitar lima bulan.
Dalam proses perbaikan, beberapa perlengkapan kapal yang rusak telah diganti dengan yang baru. Di antara yang diganti baru itu adalah "Centre boat" berbobot 3,5 ton, enam layar, dua mesin, generator dan baling-baling tiga daun.
*) My news for ANTARA on May 6, 2008

No comments:
Post a Comment