Tuesday, April 15, 2008

HARAPAN WARGA SUMUT DI AUSTRALIA PADA GUBERNUR BARU

Warga Sumatera Utara (Sumut) di Australia mengharapkan pemimpin baru hasil Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumut 16 April 2008 mampu memajukan perekonomian dan pendidikan rakyat serta membebaskan daerah itu dari simpul kejahatan lintas-negara, seperti perdagangan manusia.

Harapan itu disampaikan Samsu Rizal, Dubito Simamora, dan Jahar Gultom kepada ANTARA yang menghubungi mereka secara terpisah dari Brisbane, Selasa.

Pemajuan bidang pendidikan dan perekonomian rakyat, serta penanggulangan aksi kejahatan perdagangan manusia dan narkoba di Sumut dirasakan sangat mendesak guna menjadikan daerah berpenduduk multi-etnis itu semakin kompetitif dan aman, kata mereka.

Dubito Simamora, diplomat senior RI asal Sumut yang kini menjabat konselor bidang politik KBRI Canberra, mengatakan, pasangan gubernur dan wakil gubernur yang menang diminta untuk tidak melupakan potensi Sumut sebagai salah satu basis operasi maupun tempat transit pelaku jaringan perdangangan manusia, katanya.

"Terus terang ini sangat merisaukan saya. Saya kira semua orang tahu bahwa Medan adalah salah satu pusat perdagangan manusia yang parah di dalam negeri," katannya.

Kasus-kasus perdagangan manusia ini harus dibedakan dengan kasus-kasus tenaga kerja Indonesia (TKI) bermasalah. Perdagangan manusia merupakan tindak kejahatan dimana para pelakunya mendapatkan keuntungan dari memperdagangkan para korban, katanya.

"Yang terjadi di Medan adalah para korban yang berhasil selamat kembali diperdagangkan (traficking). Memang sudah ada staf Pemda Sumut yang cukup baik dalam penanganan kasus ini tapi hal itu tidak cukup karena harus ada penyelesaian yang komperehensif terhadap kasus ini," katanya.

Penyelesaian yang komprehensif itu meliputi pencegahan, penindakan terhadap pelaku (penegakan hukum) dan perlindungan terhadap para korban. Bahkan tidak sedikit dari para korban perdagangan manusia ini yang terganggu jiwanya, kata Dubito.

"Untuk itu, dukungan pemerintah (Sumut) bagi penanganan para korban ini pun sangat perlu karena perdagangan manusia ini adalah masalah yang teramat nyata di Sumut selain masalah perdagangan obat-obatan terlarang," kata diplomat lulusan USU ini.

Keseriusan para pemimpin baru Sumut dalam melayani kebutuhan masyarakat dan menangani kasus-kasus kejahatan trans-nasional ini sangat dituntut, katanya.


Perhatikan sektor Pendidikan

Dubito Simamora juga menggarisbawahi pentingnya memberikan perhatian besar pada pemajuan sektor pendidikan karena mutu pendidikan Sumut masih relatif tertinggal dari Pulau Jawa.

"Pendidikan masih harus terus dibenahi. Kalau kita bandingkan lulusan perguruan tinggi di Medan, mutunya masih tetap kalah dari mutu rekan-rekan mereka dari Pulau Jawa," katanya.

Untuk itu, fasilitas belajar-mengajar, internet gratis dan murah, serta perpustakaan yang modern, asri, menarik dan berorientasi pada pelayanan masyarakat harus menjadi prioritas karena persaingan masyarakat Sumut tidak lagi terbatas pada tingkat nasional tetapi sudah pada tingkat regional dan internasional, katanya.

Lulusan Sastra Inggris USU ini mengambil contoh besarnya peluang pasar kerja perawat di Australia.

Dubito mengatakan, pemimpin baru Sumut dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan di daerah itu sepatutnya semakin tergerak untuk menghasilkan lulusan program keperawatan yang mampu memenuhi standar luar negeri dan bukan lagi "sekadar lulus".

Di tengah keterbatasan kapasitas ekonomi daerah dan nasional dalam menyediakan lapangan pekerjaan, peluang bekerja di luar negeri di sektor-sektor semi-terampil dan terampil justru merupakan jalan keluar yang realistis dan strategis bagi Sumut, katanya.

"Keberadaan tenaga kerja setengah terampil dan terampil itu juga akan bermanfaat pula bagi pembangunan daerah. Biar bagaimana pun pengalaman mereka bekerja di luar negeri nantinya bisa bermanfaat bagi daerah kalau mereka sudah pulang," katanya.

Dalam pembangunan politik di daerah, Pilgub Sumut ini juga bisa dijadikan momentum untuk mengubah pola berfikir (mindset) para politisi di provinsi ini.

Perubahan pola berfikir yang dimaksud adalah "menjadi gubernur, walikota atau pun bupati jangan lagi sekadar untuk mencari kekuasaan tetapi untuk membangun daerah bagi kemanfaatan generasi selanjutnya", katanya.

Dubito juga berharap para elit politik Sumut dapat mempertahankan kerukunan, kerjasama dan dialog pasca Pilgub sehingga apapun yang diputuskan oleh rakyat jangan lagi dipolitisir kembali.


Jaga amanah rakyat

Samsu Rizal yang asli "anak Medan" dan kini merupakan Minister Counsellor bidang politik KBRI Canberra juga memiliki harapan senada.

Menurut dia, gubernur dan wakil gubernur terpilih patut memegang amanat rakyat secara sungguh-sungguh, bervisi maju, dan bekerja keras untuk mewujudkan semua janji politik yang telah disampaikan kepada rakyat selama kampanye.

"Jangan main-main jadi gubernur. Gubernur terpilih harus teguh menjalankan amanat rakyat," katanya.

Alumnus Fakultas Hukum USU Medan ini mengatakan, Pilgub Sumut yang diikuti sekitar 8,4 juta pemilih yang tersebar di 25 kabupaten/kota, 385 kecamatan, dan 5.747 desa/kelurahan dengan 22.990 Tempat Pemungutan Suara itu diharapkan berjalan damai.

"Pemilihan kepala daerah (Pilkada) Sumut ini tidak hanya diharapkan menghasilkan pimpinan yang berkualitas sesuai dengan kehendak pilihan rakyat tapi juga diharapkan bisa pula menjadi model bagi pelaksanaan Pilkada di daerah-daerah lain," katanya.

Dalam konteks ini, kelima pasangan yang maju dalam Pilgub Sumut dan para pendukung mereka patut pula mengedepankan kedewasaan berpolitik, katanya.

"Bagi pihak-pihak yang pilihannya tidak menang, bukanlah berarti mereka kalah dalam proses demokrasi ini. Setidaknya mereka telah menunjukkan partisipasi mereka dalam suatu proses demokrasi. Bagi pasangan yang menang, mereka harus menunjukkan kinerja," katanya.


Benahi kembali pariwisata
Sementara itu, Jahar Gultom yang juga Minister Counsellor Bidang Ekonomi KJRI Melbourne, mengharapkan para pemimpin baru Sumut memerhatikan pembangunan sektor pariwisata yang selama ini dirasakan mengalami kemunduran.

Dalam peta pariwisata nasional, Sumut dulu selalu masuk bersama Bali dan Yogyakarta namun peta itu kini sudah berubah karena pemerintah provinsi (Pemprov) Sumut gagal mengantisipasi perkembangan zaman, katanya.

Para pemangku kepentingan industri pariwisata dan Pemprov Sumut diminta memberi perhatian serius pada pembinaan masyarakat di daerah-daerah tujuan wisata, serta masalah akomodasi, restoran, dan transportasi, katanya.

Sumut sebenarnya tidak kalah dari segi keunikan dan daya tarik destinasi wisata namun yang kurang adalah masalah mutu pelayanan karena tidak sedikit wisatawan asing yang menjadikan kunjungan mereka ke Danau Toba Parapat "kunjungan yang pertama dan terakhir" akibat pelayanan yang tidak memuaskan, kata Gultom.

"Kita mesti banyak belajar bagaimana meningkatkan pelayanan karena potensi pasar wisatawan asing kita besar sekali mengingat secara geografis Sumut dekat dengan Singapura," katanya.

Hanya saja kedekatan Sumut dengan Singapura yang sudah sejak lama menjadi pusat transit terpenting di kawasan Asia Tenggara belum mampu mendatangkan arus wisatawan mancanegara dari negara kota itu, kata Gultom.

Pilgub Sumut yang berlangsung serentak di semua wilayah di Sumut itu diikuti oleh lima pasangan calon gubernur dan wakil gubernur periode 2008-2013.

Kelima pasangan itu adalah Pasangan RE. Siahaan - Suherdi, Syamsul Arifin - Gatot Pujonugroho, Tritamtomo - Benny Pasaribu, H. Abdul Wahab Dalimunthe - Raden Muhammad Syafi`i, dan HM. Ali Umri - H. Maratua Simanjuntak.

*) My news for ANTARA on April 15, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity