Sunday, April 13, 2008

FESTIVAL INDONESIA PERTAMA DIGELAR DI AUSTRALIA SELATAN

Duta Besar RI untuk Australia dan Vanuatu TM Hamzah Thayeb, Minggu, meresmikan acara puncak Festival Indonesia (Indofest) yang digelar untuk pertama kalinya di Adelaide guna memperkenalkan Indonesia ke masyarakat kota di negara bagian Australia Selatan itu.

Acara puncak Indofest yang berlangsung di kawasan taman kota, "Rymill Park" ini diresmikan Dubes Hamzah Thayeb sekitar pukul 11.00 waktu Adelaide dan dihadiri sejumlah pejabat setempat, kata Sekretaris III Penerangan KBRI Canberra, Basriana Basrul.

Di antara pejabat yang hadir adalah Kevin John Scarce, gubernur Australia Selatan yang juga Ketua Komisi Urusan Multi Kultural dan Etnisitas negara bagian itu, Michael Harbison (Walikota Adelaide) dan Deane Edgecombe (Konsul Kehormatan RI di Adelaide).

Di taman kota seluas 14,5 hektar yang mengabadikan nama mantan Walikota Adelaide, Sir Arthur Campbell Rymill (1950-1954), itu, para pengunjung dihibur dengan aneka pertunjukan seni budaya tradisional dan kontemporer Indonesia, kata Basriana.

Selain itu, para pengunjung juga dimanjakan dengan bazar makanan Nusantara yang diikuti oleh sedikitnya 12 gerai yang menyajikan menu masakan khas Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Jawa, serta pameran artefak dan kerajinan tangan seperti batik, kain songket dan seni lukis, katanya.

Melalui Indofest itu, diharapkan semakin banyak warga Australia yang mengenal seni budaya, musik, sejarah dan makanan Indonesia, katanya.

Dengan semakin berkembangnya pengetahuan publik di negara bagian Australia Selatan itu, diharapkan semakin tumbuh pula semangat dan ketertarikan kaum muda mereka untuk mempelajari bahasa dan budaya Indonesia, katanya.

"Tujuan akhir dari semua ini adalah tumbuhnya pemahaman yang lebih baik di tingkat masyarakat Australia mengenai Indonesia sehingga dengan demikian diharapkan memberi dampak positif bagi peningkatan hubungan kedua negara dan bangsa," kata Basriana.


Dari Aceh hingga Bali

Sejak acara dibuka pukul 11.00 hingga berakhir sekitar pukul 16.00 waktu setempat, para pengunjung dihibur oleh tari Bali "Panyembrana", parade pakaian tradisional, serta lantunan lagu-lagu Indonesia sumbangan murid setempat.

Setelah itu, tampil pula pertunjukan seni musik Sunda oleh Dodi Darmadi dan kawan-kawan, tari Saman, Angklung, tari Gambyong Pangkur, kelompok band "Garis Karawitan Quartet" yang memadukan unsur musik Indonesia dan Barat, dan pencak silat.

Para pengunjung juga dihibur dengan pertunjukan musik Dangdut, tari Bali "Kebyar Duduk", dan tari "Poco-Poco", katanya.

Indofest yang baru pertama kali diselenggarakan Institut Australia-Indonesia (AIA) bersama kelompok masyarakat Indonesia, galeri seni dan lembaga pendidikan tinggi di Adelaide itu tidak berhenti pada acara puncak di Rymill Park saja.

Serangkaian kegiatan lainnya juga diselenggarakan hingga 15 April seperti pameran lukisan dan diskusi akademis tentang kilas balik sepuluh tahun Reformasi.

Dalam pameran lukisan, sejumlah karya Pelukis Indonesia, Moelyono, dipamerkan di gedung Museum Seni Universitas Flinders.

Diskusi tentang sepuluh tahun reformasi yang diselenggarakan Pusat Kajian Asia Universitas Flinders menampilkan pembicara utama pakar sosiologi Universitas Nasional Singapura, Vedi Hadiz, katanya.

Dalam acara puncak Indofest yang dimaksudkan untuk turut mendukung program Tahun Kunjungan Wisata Indonesia 2008 itu, Dubes TM Hamzah Thayeb antara lain didampingi Konsul Jenderal RI di Sydney Sudaryomo Hartosudarmo dan Staf Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di KBRI Canberra, Yoni Utomo.

*) My news for ANTARA on April 13, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity