Monday, April 21, 2008

AUSTRALIA INGIN LEBIH BANYAK GENERASI MUDANYA BISA BERBAHASA INDONESIA

Australia mutlak perlu memiliki lebih banyak generasi muda yang belajar dan bisa berbahasa asing, khususnya bahasa-bahasa Asia seperti bahasa Indonesia, China, Jepang, dan Korea, kata Menteri Luar Negeri Stephen Smith.

Dalam wawancara khususnya dengan TV ABC 2, Senin, tentang hasil Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) 2020, Menlu Smith mengatakan, keharusan bagi Australia untuk bisa lebih baik menguasai bahasa-bahasa asing itu merupakan pandangan yang sangat kuat dalam KTT.

"Hal ini mesti kita lakukan untuk bisa terlibat di kawasan," katanya.

Masalah pentingnya kemampuan berbahasa asing, khususnya bahasa-bahasa Asia, itu sempat disinggung dalam sesi KTT tentang "Masa Depan Australia di Dunia -- Masa Depan Keamanan dan Kemakmuran Australia di Kawasan dan Dunia yang Berubah dengan Cepat".

Menlu Smith mengatakan, ia optimis Australia bisa menjadi warga dunia yang baik dan tampil sebagai "pemain yang efektif" dalam merespons berbagai persoalan global.

"Australia bisa melakukan lebih banyak hal dan lebih baik sebagai bangsa," katanya.

Pernyataan Menlu Smith tentang pentingnya Australia memiliki lebih banyak generasi yang mempelajari dan menguasai bahasa-bahasa Asia itu merupakan penegasan kembali dari apa yang ia telah sampaikan pada acara "Meet the Press" tentang KTT 2020 Minggu (20/4).

Pada acara "Meet the Press" itu, Menlu Smith mengatakan bahwa masalah keharusan bagi setiap siswa Australia untuk belajar satu bahasa asing merupakan ide besar yang muncul dalam KTT 2020.

Keterampilan berbahasa itu, katanya, sangat penting bagi kemampuan Australia bergaul secara efektif dengan negara-negara di kawasan Asia Pasifik.

"Bagi saya adanya dorongan kuat untuk (mempelajari dan menguasai) bahasa-bahasa asing, khususnya Asia, merupakan hal yang sangat penting bagi kita dalam menjalankan hubungan internasional, kebijakan luar negeri dan posisi kita di kawasan," katanya.

Karenanya, memiliki kemampuan dan keterampilan berbahasa, serta sensitifitas pada budaya yang berkembang di kawasan sangat penting bagi Australia, katanya.

Diplomasi

Menurut dia, penguasaan bahasa China, Indonesia, maupun bahasa-bahasa Eropa tidak hanya akan sangat membantu Australia dalam menjalankan hubungan luar negeri dan diplomasinya tetapi juga akan sangat membantu para generasi muda negara ini.

"Mempelajari bahasa asing juga akan membantu anak-anak kita karena dari perspektif kependidikan, ternyata jika Anda mempelajari satu bahasa asing, apapun bahasa itu, maka bahasa tersebut akan membantu Anda dalam pencapaian belajar Anda," katanya.

Dalam sesi KTT 2020 yang diketuai Menlu Smith bersama Pakar Hubungan Internasional dan Direktur Institut Asia Universitas Griffith, Prof. Michael Wesley itu, meningkatkan pemahamanan Australia tentang Asia dan budaya Asia menjadi prioritas penting.

Dalam KTT 2020 dua hari di Gedung Parlemen Canberra yang berakhir Minggu sore itu, sekitar seribu orang warga Australia berkesempatan ikut menentukan strategi jangka panjang pembangunan masa depan negara mereka.

Masalah masa depan keamanan dan kemakmuran Australia di tengah kawasan Asia Pasifik dan dunia yang berubah cepat hanyalah salah satu dari 10 topik bahasan di KTT tersebut.

Beberapa isu lainnya adalah agenda produktivitas yang meliputi isu pendidikan, keahlian/keterampilan, pelatihan, sains dan inovasi; serta masa depan ekonomi Australia.

Isu Republik yang pernah muncul di era pemerintahan Perdana Menteri Paul Keating (Partai Buruh) kembali menyeruak dalam KTT dua hari di Parlemen Australia Canberra yang berakhir Minggu sore itu.

Australia yang kini berpenduduk lebih dari 21 juta jiwa adalah negara industri maju yang bertetangga langsung dengan Indonesia dan Timor Leste.

*) My updated news for ANTARA on April 21, 2008

1 comment:

Anonymous said...

Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
http://www.infogue.com/
http://www.infogue.com/masalah_politik/australia_ingin_lebih_banyak_generasi_mudanya_bisa_berbahasa_indonesia/

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity