Penyebaran film "Fitna" karya anggota parlemen Belanda, Geert Wilders, yang menista kitab suci Al Qur'an patut disesalkan namun umat Islam Indonesia dan dunia sepatutnya tidak bereaksi dengan cara-cara kekerasan yang justru diinginkan Wilders.Sebaliknya, reaksi umat yang lebih efektif adalah dengan cara membuat film-film berdurasi pendek yang memaparkan fakta sejarah tentang kehidupan yang harmonis dan damai antara para tokoh dan masyarakat Islam dengan tokoh-tokoh dan masyarakat non-Muslim di Indonesia, di Barat dan di tempat-tempat lainnya, kata Cendekiawan Muslim Indonesia di Australia, Nadirsyah Hosen.
Dunia Islam kaya akan "sumber bahan" pembuatan film dokumenter bertema harmoni dan kedamaian antarumat beragama seperti itu, katanya dalam perbincangan dengan ANTARA seusai ia mengisi pengajian bulanan Masyarakat Muslim Indonesia di Brisbane (IISB), Sabtu.
Bangsa Indonesia sendiri memiliki begitu banyak sutradara film yang mumpuni untuk mendukung pembuatan film-film dokumenter yang menarik semacam ini untuk secara tidak langsung "menjawab" Film "Fitna", kata Nadirsyah Hosen.
Sutradara muda, Hanung Bramantyo, adalah salah seorang sineas Indonesia yang mampu membuat film-film berdurasi pendek yang bagus dan dapat mengimbangi film-film semacam "Fitna" karena dia telah pun membuktikan kemampuannya dalam Film "Ayat-Ayat Cinta".
Dalam khasanah sejarah dunia dapat ditemukan rekam jejak kehidupan umat Islam yang harmoni dengan masyarakat non-Muslim. Bahkan, ketika orang-orang Yahudi diusir dari Spanyol dulu, mereka justru ditampung oleh Sultan Turki, katanya.
Di zaman ke-emasan peradaban Islam di Cordova, Spanyol, pula, para ilmuwan Muslim, Yahudi dan Kristen biasa melakukan penelitian bersama di sebuah laboratorium tanpa ada masalah, kata dosen tetap Fakultas Hukum Universitas Wollongong Australia itu.
Di dalam sejarah, umat Islam dan non-Muslim pernah akrab dan hidup berdampingan secara damai. Tidak sepatutnya kalau penggalan sejarah yang justru sering diangkat adalah semisal Perang Salib atau insiden-insiden lain, katanya.
Nadirsyah Hosen yang juga Ra'is Syuriah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (NU) Australia dan Selandia Baru ini mengatakan, fakta-fakta sejarah yang menggambarkan kehidupan harmoni dan damai antarumat beragama semacam itu patut diangkat ke dalam film-film oleh para sineas Indonesia dan Dunia Islam.

Perspektif demografis
Sementara itu, Pakar Demografi Universitas Queensland, Dr.Salahudin (Salut) Muhidin, melihat substansi film karya fundamentalis Belanda, Geert Wilders, ini dari perspektif demografis karena peningkatan jumlah warga Muslim di Belanda ikut disorot.
Dilihat dari perspektif demografis, Film "Fitna" mencerminkan kekeliruan berfikir Geert Wilders tentang eksistensi para migran Muslim dan keturunannya di Belanda.
Doktor bidang demografi lulusan Universitas Groningen tahun 2002 itu mengatakan, cara pandang bahwa sifat keturkian maupun kemarokoan generasi migran Muslim asal Turki dan Maroko di Belanda bersifat tetap dalam setiap generasi adalah keliru.
"Pada generasi pertama dan kedua memang masih kental keturkian para migran Turki di Belanda tapi bagi generasi ketiga yang lahir dan besar di Belanda, sifat kebelandaan mereka jauh lebih besar dari keturkian mereka," katanya.
Argumentasinya adalah generasi ketiga para migran Muslim di Belanda itu tumbuh, bersekolah, dan bergaul dalam lingkungan sosial dan sistim Belanda, katanya.
Dalam pandangan Salut, sejauh ini kondisi masyarakat Muslim dan non-Muslim di Belanda masih mencerminkan suatu "masyarakat yang terbelah" (divided society).
Orang-orang Belanda asli tampak lebih "terbuka" namun umat Islam cenderung "lebih menarik diri" dari pergaulan sosial.
Dalam kondisi seperti ini, jika terjadi pertikaian fisik antara seorang anak Belanda keturunan Maroko dengan anak Belanda asli misalnya, kasus ini terkadang masih dilihat dalam konteks "suku bangsa" bukan masalah sosial biasa, katanya.
Namun terlepas dari itu, Salut mengatakan, film "Fitna" yang kini beredar di televisi berbasis internet "youtube" setelah pertama kali ditayangkan oleh pengelola situs "www.liveleak.com" 27 Maret lalu tidak bisa dibenarkan atas alasan apapun.

Reaksi umat Islam
Reaksi umat Islam di Indonesia sendiri terhadap film buatan fundamentalis Belanda, Geert Wilders, yang menggambarkan Al Qur'an sebagai kitab suci yang mengajarkan kekerasan itu sangat beragam.
Ketua Umum DPP Partai Bulan Bintang MS Kaban misalnya mengatakan, meskipun berisi hujatan terhadap Islam, Film "Fitna" tidak akan mengurangi keyakinan umat Islam bahkan menambah keyakinan mereka pada kebenaran Islam.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dien Syamsuddin menolak keras penayangan film tersebut karena menghina Islam dan ia menyebutnya sebagai tanda bahwa negara-negara Barat belum siap berdemokrasi dan bertoleransi.
Bagi mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohammad, gerakan etis umat Islam dalam menentang film Wilders tersebut melalui pemboikotan produk-produk Belanda adalah tindakan balasan yang efektif.
Seperti dikutip Harian Utusan Malaysia dan Berita Harian, Minggu, Mahathir mengatakan jika umat Islam sedunia yang jumlahnya sekitar 1,3 miliar orang bersama-sama memboikot produk Belanda, aksi itu akan melumpuhkan ekonomi negara tersebut.
Sebagian besar penduduk Muslim merupakan penduduk yang kaya dan juga pengimport terbesar produk Belanda, katanya.
Terhadap seruan Mahathir kepada umat Islam se-dunia atas produk-produk Belanda itu, AFP melaporkan, kalangan pengusaha Belanda sudah mengancam akan menggugat Geert Wilders ke pengadilan untuk mendapat ganti rugi jika pemboikotan benar-benar terjadi.
Beberapa perusahaan Belanda yang beroperasi secara global adalah Shell, Philips, dan Unilever.
*) My news for ANTARA on March 30, 2008

No comments:
Post a Comment