Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA) dari enam negara bagian sudah menyatakan dukungannya pada penyelenggaraan Olimpiade PPIA yang dijadwalkan berlangsung di Brisbane selama empat hari mulai 1 Agustus 2008.Kepastian tentang dukungan dari enam cabang PPIA pada penyelenggaraan olimpiade antarmahasiswa Indonesia se-Australia itu diungkapkan Ketua PPIA Queensland, Reymanditya Poerwito,kepada ANTARA yang menemuinya di Brisbane, Sabtu.
Ke-enam cabang PPIA di luar PPIA Queensland yang sudah menyatakan dukungannya itu adalah PPIA Victoria, New South Wales, Australia Selatan, Australia Barat, Northern Territory, dan Australian Capital Territory, katanya.
Sejauh ini sudah disepakati bahwa tiga cabang olahraga yang akan dipertandingkan adalah basket, sepakbola dan bulutangkis, kata mahasiswa magister akuntansi Universitas Teknologi Queensland (QUT) yang akrab dipanggil Adit ini.
"Selain tiga cabang olahraga itu, ada juga usul agar tari Saman dipertandingkan," katanya saat ditemui di sela kesibukannya mempersiapkan acara penyambutan mahasiswa baru asal Indonesia yang kuliah di beberapa universitas di negara bagian Queensland.
Adit mengatakan, pihaknya sepakat untuk menggunakan fasilitas olahraga yang ada di kampus Universitas
Queensland St.Lucia karena selain lengkap, semua fasilitas yang diperlukan juga berada di satu lokasi.
Rencana penyelenggaraan Olimpiade PPIA pada Agustus 2008 itu mendapat dukungan kuat dari Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di KBRI canberra dan Konsulat Jenderal RI di Sydney, katanya.
"Respons KBRI Canberra dan KJRI Sydney bagus... Pak Agus Sartono (Adikbud RI di KBRI Canberra) bahkan sudah menyatakan dukungannya," kata Adit.
Ditanya tentang kegiatan lain PPIA Queensland sepanjang 2008, ia mengatakan, pihaknya juga akan kembali menyelenggarakan "Pesta Rakyat" untuk menyambut perayaan Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus 2008.
"Seperti tahun sebelumnya, kita mengisi acara Pesta Rakyat ini dengan bazar makanan Indonesia, penampilan tari-tarian dan konser band. Acara puncaknya akan diselenggarakan di gedung seni Brisbane Powerhouse," katanya.
Acara Pesta Rakyat 2008 itu sudah menjadi kegiatan tahunan sejak 2006, katanya.
Dukung pelayanan KJRI
PPIA Queensland, kata Adit, juga mendukung KJRI Sydney memberikan pelayanan langsung kekonsuleran dan keimigrasian kepada para mahasiswa dan warga negara Indonesia pada umumnya yang berdomisili di Brisbane dan kota-kota lain di Queensland.
Acara penyambutan mahasiswa baru PPIA Queensland itu juga diawali dengan pemberian pelayanan kekonsuleran KJRI Sydney kepada sekitar 200-an orang WNI, termasuk mahasiswa dan angg
ota keluarganya, yang ingin melapor diri dan memperpanjang masa berlaku paspor.
Sejak sekitar pukul 09.00 waktu Brisbane, puluhan orang sudah memadati salah satu ruang kuliah gedung B QUT untuk mendapatkan pelayanan langsung kekonsuleran dari Konsul bidang kekonsuleran KJRI Sydney, Edi Wardoyo.
Sementara itu, Konsul Bidang Keimigrasian KJRI Sydney Johnny Anwar Radjadin, yang ikut dalam pemberian pelayanan yang didukung PPIA Queensland itu mengatakan, antusiasme para warga Indonesia, khususnya mahasiswa, untuk melapor diri cukup tinggi.
"Sekitar 200 orang memanfaatkan pelayanan kita hari ini. Adanya lapor diri para warga kita itu memudahkan kita mendata termasuk untuk kepentingan Pemilu (2009). Sayangnya tidak ada kewajiban untuk lapor pulang selama ini," katanya.
Namun, pihaknya ingin secara bertahap membangun kesadaran baru bahwa selain melapor diri pada saat tiba di Australia, melapor atau sekadar memberitahukan ke KJRI Sydney pada saat hendak kembali ke Tanah Air melalui email juga penting untuk membantu upaya petugas memutakhirkan data keberadaan yang bersangkutan, katanya.
Acara penyambutan mahasiswa baru sekaligus pemberian pelayanan kekonsuleran kepada WNI itu turut dihadiri Konsul Jenderal RI di Sydney, Sudaryomo Hartosudarmo, dan ratusan orang mahasiswa.
Aktivis mahasiswa QUT, Yaso, mengatakan, mereka yang hadir dalam acara penyambutan yang berlangsung di gedung "lecture theatre" QUT itu turut dihibur tim seni angklung dan tari Saman Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Universitas Queensland (UQISA).

No comments:
Post a Comment