Friday, March 21, 2008

BRISBANE JADI TUAN RUMAH OLIMPIADE MAHASISWA INDONESIA SE-AUSTRALIA

Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA) dari enam negara bagian sudah menyatakan dukungannya pada penyelenggaraan Olimpiade PPIA yang dijadwalkan berlangsung di Brisbane selama empat hari mulai 1 Agustus 2008.

Kepastian tentang dukungan dari enam cabang PPIA pada penyelenggaraan olimpiade antarmahasiswa Indonesia se-Australia itu diungkapkan Ketua PPIA Queensland, Reymanditya Poerwito,kepada ANTARA yang menemuinya di Brisbane, Sabtu.

Ke-enam cabang PPIA di luar PPIA Queensland yang sudah menyatakan dukungannya itu adalah PPIA Victoria, New South Wales, Australia Selatan, Australia Barat, Northern Territory, dan Australian Capital Territory, katanya.

Sejauh ini sudah disepakati bahwa tiga cabang olahraga yang akan dipertandingkan adalah basket, sepakbola dan bulutangkis, kata mahasiswa magister akuntansi Universitas Teknologi Queensland (QUT) yang akrab dipanggil Adit ini.

"Selain tiga cabang olahraga itu, ada juga usul agar tari Saman dipertandingkan," katanya saat ditemui di sela kesibukannya mempersiapkan acara penyambutan mahasiswa baru asal Indonesia yang kuliah di beberapa universitas di negara bagian Queensland.

Adit mengatakan, pihaknya sepakat untuk menggunakan fasilitas olahraga yang ada di kampus Universitas Queensland St.Lucia karena selain lengkap, semua fasilitas yang diperlukan juga berada di satu lokasi.

Rencana penyelenggaraan Olimpiade PPIA pada Agustus 2008 itu mendapat dukungan kuat dari Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di KBRI canberra dan Konsulat Jenderal RI di Sydney, katanya.

"Respons KBRI Canberra dan KJRI Sydney bagus... Pak Agus Sartono (Adikbud RI di KBRI Canberra) bahkan sudah menyatakan dukungannya," kata Adit.
Ditanya tentang kegiatan lain PPIA Queensland sepanjang 2008, ia mengatakan, pihaknya juga akan kembali menyelenggarakan "Pesta Rakyat" untuk menyambut perayaan Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus 2008.

"Seperti tahun sebelumnya, kita mengisi acara Pesta Rakyat ini dengan bazar makanan Indonesia, penampilan tari-tarian dan konser band. Acara puncaknya akan diselenggarakan di gedung seni Brisbane Powerhouse," katanya.

Acara Pesta Rakyat 2008 itu sudah menjadi kegiatan tahunan sejak 2006, katanya.


Dukung pelayanan KJRI
PPIA Queensland, kata Adit, juga mendukung KJRI Sydney memberikan pelayanan langsung kekonsuleran dan keimigrasian kepada para mahasiswa dan warga negara Indonesia pada umumnya yang berdomisili di Brisbane dan kota-kota lain di Queensland.

Acara penyambutan mahasiswa baru PPIA Queensland itu juga diawali dengan pemberian pelayanan kekonsuleran KJRI Sydney kepada sekitar 200-an orang WNI, termasuk mahasiswa dan anggota keluarganya, yang ingin melapor diri dan memperpanjang masa berlaku paspor.

Sejak sekitar pukul 09.00 waktu Brisbane, puluhan orang sudah memadati salah satu ruang kuliah gedung B QUT untuk mendapatkan pelayanan langsung kekonsuleran dari Konsul bidang kekonsuleran KJRI Sydney, Edi Wardoyo.

Sementara itu, Konsul Bidang Keimigrasian KJRI Sydney Johnny Anwar Radjadin, yang ikut dalam pemberian pelayanan yang didukung PPIA Queensland itu mengatakan, antusiasme para warga Indonesia, khususnya mahasiswa, untuk melapor diri cukup tinggi.

"Sekitar 200 orang memanfaatkan pelayanan kita hari ini. Adanya lapor diri para warga kita itu memudahkan kita mendata termasuk untuk kepentingan Pemilu (2009). Sayangnya tidak ada kewajiban untuk lapor pulang selama ini," katanya.

Namun, pihaknya ingin secara bertahap membangun kesadaran baru bahwa selain melapor diri pada saat tiba di Australia, melapor atau sekadar memberitahukan ke KJRI Sydney pada saat hendak kembali ke Tanah Air melalui email juga penting untuk membantu upaya petugas memutakhirkan data keberadaan yang bersangkutan, katanya.

Acara penyambutan mahasiswa baru sekaligus pemberian pelayanan kekonsuleran kepada WNI itu turut dihadiri Konsul Jenderal RI di Sydney, Sudaryomo Hartosudarmo, dan ratusan orang mahasiswa.

Aktivis mahasiswa QUT, Yaso, mengatakan, mereka yang hadir dalam acara penyambutan yang berlangsung di gedung "lecture theatre" QUT itu turut dihibur tim seni angklung dan tari Saman Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Universitas Queensland (UQISA).

*) My news for ANTARA on March 22, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity