

Oleh Rahmad Nasution
Drama penahanan dua aktivis berkebangsaan Australia dan Inggris oleh kapal pemburu paus Jepang, "Yushin Maru No.2", di Laut Selatan (Antartika) sejak 15 Januari lalu akhirnya berakhir Jumat dini hari (18/1).
Benjamin Potts (28) dan
Namun, pelepasan kedua aktivis SSCS itu tidak serta-merta menyurutkan konflik antara kelompok anti-perburuan paus
Sinyal tersebut disampaikan sendiri oleh pihak SSCS dalam pernyataan persnya. Bahkan, kendati kedua aktivisnya itu senang bisa kembali berkumpul dengan rekan-rekan mereka di kapal "Steve Irwin", mereka menyatakan siap untuk kembali ikut mengejar kapal-kapal Jepang.
Kapten Kapal "Steve Irwin", Paul Watson, juga mengisyaratkan bahwa pihaknya akan melanjutkan misi penghalauan terhadap kapal-kapal Jepang yang beroperasi di Laut Selatan, khususnya di "perairan teritorial Antartika
Dalam delapan hari terakhir, Watson mengatakan, pihaknya tidak menemukan adanya ikan paus yang dibunuh dan kondisi ini merupakan "kemenangan" terhadap kapal-kapal Jepang.
Drama penahanan kedua aktivis SSCS yang terjadi akibat keduanya menaiki dek kapal "Yushin Maru No.2" secara ilegal untuk menyerahkan
Pelepasan keduanya pun melalui pendekatan diplomasi dan negosiasi yang alot karena SSCS tidak menginginkan adanya syarat apa pun dalam pelepasan kedua orang anggotanya yang dituduh pihak kapal "Yushin Maru No.2" sebagai perampok modern itu.
Yang pasti,
Bagi Pemerintah Jepang, Laut Selatan merupakan perairan tak bertuan dan kegiatan perburuan paus negaranya untuk tujuan sains adalah sah.
Dilihat dari pandangan hukum
Pakar Hukum Internasional Universitas Nasional Australia (ANU) Don Rothwell, menyebut keduanya dapat pula dikenakan sejumlah tuduhan pelanggaran hukum
Sebelum insiden di perairan Laut Selatan itu terjadi, konflik antara kelompok anti dan pro-perburuan paus di Jepang juga menghangat di layar televisi berbasis internet (IPTV) "Youtube" setelah sebuah iklan komersial bir Australia yang mengambil tema "anti perburuan paus Jepang" ditayangkan "Youtube".
Tayangan iklan komersial sebuah perusahaan bir
Tayangan video iklan yang telah disaksikan oleh puluhan ribu pengunjung situs "Youtube" (http://www.youtube.com) itu sempat pula ditanggapi Menlu Smith pada 7 Januari lalu.
Kehadiran tayangan produk bir botol yang memuat pesan kampanye "whale safe beer" (bir penyelamat paus) itu berurutan dengan dua video lain yang justru berisi pesan negatif tentang pembantaian kangguru di Australia.
Australia terus menekan
Dalam kasus perburuan paus ini, Australia di bawah pemerintahan Perdana Menteri Kevin Rudd sejak Desember 2007 telah melakukan tekanan diplomasi terhadap Tokyo.
Tekanan
Sebelum adanya penangguhan Tokyo itu, kapal-kapal pemburu paus Jepang yang sudah berada di perairan Antartika diklaim Australia akan memburu 935 ekor paus "minke", 50 paus "humpback" dan 50 paus "fin" (sirip) untuk program "scientific whaling" negara itu.
Menteri Luar Negeri Australia, Stephen Smith, menyambut baik pengumuman Jepang tersebut, namun pihaknya tetap menginginkan Tokyo menghentikan apa yang disebutnya "program perburuan paus untuk tujuan sains" itu.
"Pemerintah
Upaya Canberra menekan
"Informasi tentang hasil pemantauan ini penting bagi pengambilan tindakan hukum," kata Menlu Smith.
Reaksi Tokyo adalah penolakan tegas terhadap manuver
Namun, perbedaan sikap kedua pemerintah dan publik kedua negara dalam isu perburuan paus tidak lantas mempengaruhi komitmen keduanya untuk menjaga hubungan dan kerja sama bilateral yang luas selama ini.
Menlu Smith sendiri menegaskan kembali komitmen pemerintahnya untuk menjaga hubungan Canberra-Tokyo yang baik itu dalam wawancaranya dengan Stasiun TV "Channel Seven", menanggapi pelepasan kedua aktivis SSCS tersebut.
Dalam sejarah hubungan kedua negara, isu perburuan paus memang telah membuat Canberra dan Tokyo tidak pernah sejalan, namun di luar isu tersebut, kedua pemerintah relatif berhasil memperluas kemitraan strategis mereka di bidang perdagangan dan keamanan.
Jepang tercatat sebagai salah satu mitra dagang utama Australia di samping Amerika Serikat (AS), China, Korea Selatan, Selandia Baru, Jerman, dan Inggris.
Di masa pemerintahan PM John Howard, kedua negara bahkan sudah memulai perundingan tentang perdagangan bebas (FTA) sejak April 2007.
Di bidang kerja sama keamanan,
Meskipun demikian, tampaknya dalam perjalanan persahabatan Australia-Jepang, isu paus bak "batu krikil dalam sepatu" yang mau tidak mau mewarnai dinamika hubungan keduanya.
*) disiarkan ANTARA pada 18 Januari 2008

No comments:
Post a Comment