Thursday, October 1, 2009

SUDAH 70 WNI TERSANGKUT PENYELUNDUPAN MANUSIA DI AUSTRALIA

Indonesia dan Australia berhasil membangun kerja sama bilateral dan regional yang baik dalam menumpas aksi kejahatan penyelundupan manusia, kata Diplomat senior urusan politik KBRI Canberra, Dupito Darma Simamora.

Namun kasus penyelundupan para pencari suaka ilegal itu juga memunculkan persoalan kekonsuleran karena sejak 13 bulan terakhir sudah ada 70 orang WNI yang tersangkut kasus kriminal ini di Australia, katanya kepada ANTARA, Kamis malam, berkaitan dengan kasus penyelundupan manusia dalam konteks hubungan RI-Australia.

Sejak kapal pengangkut pencari suaka pertama memasuki perairan Australia pada September 2008, sudah ada 70 warga negara Indonesia yang tersangkut kasus penyelundupan manusia ini di Australia.

Mereka itu adalah nakhoda dan awak dari 24 dari 36 kapal pengangkut pencari suaka yang memasuki Australia sampai 29 September 2009, katanya.

"Sejak September 2008 sampai 29 September 2009, setidaknya sudah ada 36 kapal pengangkut pencari suaka yang masuk perairan Australia dengan jumlah pencari suaka mencapai 1.690 orang," katanya.

Dupito Simamora mengatakan, dari 70 orang WNI yang mengawaki maupun menakhodai 24 kapal pengangkut pencari suaka itu, sebanyak 13 orang sudah dipulangkan karena mereka masih "di bawah umur".

Sebanyak 57 orang WNI lainnya tersangkut proses hukum dan bahkan sebagian telah pun menjalani masa hukumannya di Penjara Hakea Perth, Australia Barat, katanya.

"Jadi masalah 'people smuggling' (penyelundupan manusia-red.) yang kita tangani bersama dengan Australia baik secara bilateral maupun regional melalui 'Bali Process' menyisakan dimensi lain, yakni sudah semakin
banyaknya WNI yang ditangkap di Australia."

"Jadi ini bukan lagi sekadar penanganan people-smuggling' tetapi aspek yang mendasarnya adalah WNI kita dituduh dan ditangkap pihak Australia sehingga masalah pemberian perlindungan kepada warga kita ini menjadi 'concern' (perhatian dan keprihatinan-red.) kita," katanya.

Minister Counselor Fungsi Politik KBRI Canberra ini mengatakan, akses kekonsuleran kepada para WNI yang tersangkut kasus penyelundupan manusia maupun kasus-kasus kriminal lainnya di Australia mendapat perhatian pihaknya karena hal itu bertalian erat dengan fungsi perlindungan perwakilan RI kepada WNI.

Lagi penangkapan kapal

Sementara itu, dalam perkembangan terbaru aksi penyelundupan manusia ini, dua kapal patroli Australia, HMAS Albany dan HMAS Maitland, kembali menangkap satu kapal berpenumpang 67 orang yang diduga para pencari suaka sekitar 23 mil baratlaut perairan Pulau Browse Kamis pagi sekitar pukul 02:17 waktu setempat.

Menteri Dalam Negeri Australia, Brendan O'Connor, mengatakan semua penumpang dan awak kapal akan menjalani pemeriksaan keamanan, identitas, dan kondisi kesehatan di Pusat Penahanan Imigrasi Pulau Christmas, Australia Barat.

Sejak maraknya aksi penyelundupan para pencari suaka September 2008, menurut O'Connor dalam penjelasan persnya, Polisi Federal Australia (AFP) telah menyeret 48 orang tersangka ke pengadilan dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.

Dari 48 orang itu, sebanyak 44 orang di antaranya adalah awak kapal dan empat orang lainnya adalah anggota sindikat yang mengorganisir penyelundupan manusia yang berbasis di Australia, katanya.

*) My news for ANTARA on Oct 1, 2009

MAHASISWA INDONESIA DI AUSTRALIA PEDULI KORBAN GEMPA SUMBAR

Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di KBRI Canberra Dr.Aris Junaidi mengimbau belasan ribu pelajar dan mahasiswa Indonesia di Australia agar ikut menggalang dana kemanusiaan bagi para korban bencana di Tanah Air, termasuk gempa Sumatera Barat (Sumbar).

"Selain fokus pada kegiatan perkuliahan, mahasiswa kita harus juga peka pada situasi di Tanah Air. Sebagai bentuk rasa simpati, penggalangan dana bagi para korban adalah kegiatan yang sangat simpatik," katanya di sela kunjungan kerjanya bersama dua diplomat dan atase Polri di KBRI Canberra ke Adelaide, Kamis.

Aris Junaidi mengatakan, ia sangat mendukung penggalangan dana kemanusiaan bagi para korban bencana Sumbar yang dilakukan di sela pertemuan dirinya dan ketiga unsur KBRI Canberra dengan sekitar seratus orang mahasiswa dan warga Indonesia di kampus Universitas Flinders, Australia Selatan, Kamis.

Penggalangan dana bantuan bagi para korban gempa bumi berkekuatan 7,6 pada Skala Richter yang memporakporandakan kota Padang dan beberapa wilayah lain di Sumbar hari Rabu (30/9) pukul 17.16 WIB itu sepatutnya pula dilakukan komunitas pelajar dan mahasiswa Indonesia lainnya di seluruh Australia.

"Setidaknya ada enam belas ribu orang pelajar dan mahasiswa kita di Australia saat ini," katanya.

Himbauan Adikbud RI di KBRI Canberra Aris Junaidi ini ditanggapi positif pengurus Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Universitas Queensland (UQISA).

Kepada ANTARA yang menghubunginya secara terpisah, Presiden UQISA, Cecep Setiawan, mengatakan, pihaknya mengapresiasi himbauan Adikbud RI di Canberra itu dengan segera melaksanakan aksi penggalangan dana kemanusiaan bagi para korban gempa Sumatera.

"Kami mengimbau komunitas mahasiswa Indonesia di UQ agar untuk membantu 'dompet peduli' UQISA bagi para korban gempa Sumbar," katanya.

Simpati Australia

Cecep mengatakan, pihaknya juga menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Premier (Kepala Pemerintah) Negara Bagian Queensland Anna Bligh atas keprihatinan dan empatinya yang mendalam kepada para korban bencana alam yang terjadi di Indonesia, Samoa, Filipina dan Vietnam," katanya.

Sebagai wujud dari keprihatinannya itu, Anna Bligh bersama sejumlah menteri dan anggota Parlemen Queensland mengadakan pertemuan dengan para wakil Palang Merah Australia serta komunitas Indonesia, Samoa, Filipina dan Vietnam yang ada di kota Brisbane dan sekitarnya, katanya.

Pada pertemuan yang membahas upaya bantuan bagi para korban bencana, termasuk pembentukan "Premier Disaster Relief Appeal" itu, komunitas Indonesia diwakili enam orang.

Selain Cecep Setiawan, juga hadir Presiden Perhimpunan Masyarakat Indonesia (PIQ), Hendry Baiquni, Andri Setiawan (Perhimpunan Komunitas Muslim Indonesia di Brisbane), Malia Ritaningsih (Aliansi Seni Australia-Indonesia), Hamid Mawardi (PIQ), dan Taufan Akbar Mawardi (Pemuda Muslim Asia Tenggara di Brisbane).

Sementara itu, dalam perkembangan lain, Menteri Luar Negeri Australia Stephen Smith juga menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada para korban dan keluarga korban bencana yang telah menewaskan sedikitnya 364 orang dan melukai sedikitnya 2.177 orang warga Sumbar itu.

"Hati kita tertuju pada Indonesia dan warga Indonesia yang terkena dampak bencana ini," katanya dalam penjelasan persnya kepada media setempat.

Menlu Smith juga menegaskan kesediaan Australia mengulurkan bantuannya kepada Indonesia jika diminta.

Gempa dahsyat yang melanda Sumbar itu tidak hanya menewaskan ratusan orang dan melukai ribuan orang lainnya tetapi juga merusak sedikitnya 2.650 bangunan.

*) My news for ANTARA on Oct 1, 2009

PENELITI INDONESIA TERIMA "CRAWFORD AWARD" DI AUSTRALIA

Direktur Perbenihan Ditjen Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Dr.Ketut Sugama, MSc, di Adelaide, Rabu malam, menerima penghargaan bergengsi Australia, "Crawford Fund", atas prestasi riset dan keberhasilannya mengembangkan teknolgi pembenihan ikan laut.

Penghargaan itu disampaikan Ketua Dewan Gubernur Crawford Fund, Neil Andrew, kepada Ketut Sugama dalam satu acara yang turut dihadiri Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di Canberra Dr.Aris Junaidi dan sejumlah pejabat KBRI Canberra lainnya yang tengah berkunjung ke Adelaide.

Ketut Sugama mengatakan, "Crawford Fund Award" yang diterimanya Rabu malam ini merupakan pengakuan dan penghargaan atas keberhasilannya mengembangkan teknologi pembenihan ikan-ikan laut, khususnya Kerapu, yang ikut membantu masyarakat pantai meninggalkan cara-cara penangkapan ikan yang merusak lingkungan.

"Katanya (Crawford Fund), saya berhasil mengembangkan teknologi pembenihan ikan-ikan laut, terutama ikan Kerapu, sehingga ikut membantu menghindarkan masyarakat dari merusak karang lewat bom ikan berbahan sianida," katanya.

Selama ini, ia telah pun menjalin kerja sama erat dengan Pusat Penelitian Pertanian Internasional Australia (ACIAR).
Menanggapi keberhasilan Dr.Ketut Sugama,MSc, Adikbud RI di KBRI Canberra Dr.Aris Junaidi menyebutnya sebagai pengakuan internasional atas prestasi riset Indonesia yang manfaatnya juga dirasakan Australia.

Sebelum menjadi direktur pembenihan di Ditjen Perikanan Budidaya DKP, Ketut Sugama pernah mengepalai Balai Riset Perikanan Budidaya Laut di Gondol, Bali (1990-2002). Crawford Fund sendir merupakan lembaga nirlaba yang mendukung pengembangan riset pertanian dunia.

Lembaga non-pemerintah yang didirikan Akademi Sains Teknologi dan Teknik Australia (AATSE) tahun 1987 itu menyandang nama Sir John Crawford untuk mengenang jasanya bagi pengembangan riset pertanian dunia.


*) My news for ANTARA on Sept 30, 2009

Wednesday, September 30, 2009

PENDIDIKAN "ORANG RIMBA" DI INDONESIA "DIANAK-TIRIKAN"

Anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari total jumlah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Dasar 1945 belum berpihak kepada kebutuhan pendidikan anak-anak suku terasing, seperti komunitas Orang Rimba di Jambi.

Disamping itu, kegagalan berbagai pihak memahami keunikan komunitas Orang Rimba, seperti bagaimana mereka berfikir tentang diri mereka, termasuk memaknai tujuan sekolah bagi mereka, telah menjadikan sejumlah program aksi yang bermaksud mengangkat derajat mereka salah kaprah.

Kedua poin itu merupakan benang merah acara temu ramah puluhan mahasiswa Indonesia di Universitas Queensland (UQ) dengan tokoh muda pendidikan alternatif bagi masyarakat adat yang juga pendiri Sokola, Saur Marlina Manurung alias Butet Manurung di kampus UQ St.Lucia, Brisbane, Selasa malam (29/9).

Tokoh muda yang lebih dieknal dengan nama Butet Manurung ini mengatakan, waktu, cara, dan tujuan anak-anak komunitas Orang Rimba belajar tidak bisa disamakan dengan pola pendidikan yang diterapkan Diknas RI bagi anak-anak Indonesia pada umumnya.

"Mereka (Orang Rimba-red.) belajar tanpa mengenal waktu. Bahkan sampai larut malam... Anak-anak Rimba itu mau belajar apa yang terpakai setiap hari," kata pegiat pendidikan alternatif yang sedang mengambil program studi magister antropologi terapan di Universitas Nasional Australia (ANU) ini.

Butet Manurung mengatakna, bagi komunitas Orang Rimba yang hidup di kawasan hutan Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD) seluas 60.500 hektar ini, sekolah diperlukan supaya mereka tidak mudah ditipu oleh warga masyarakat lain di luar mereka yang biasa mereka sebut "orang terang", seperti dalam transaksi jual beli.

"Kita menyebutnya sekolah untuk kehidupan, bukan supaya pintar dan jadi kaya," kata perempuan berdarah Batak kelahiran Jakarta 21 Februari 1972 yang menamatkan pendidikan sarjananya di jurusan Antropologi Unpad (1998) dan Sastra dan Bahasa Indonesia Unpad (2002) ini.

Penerima penghargaan "Heroes of Asia Award 2004" untuk kategori konservasi dari Majalah Time ini mengatakan, ia bersama para pegiat Sokola memberikan pengetahuan dasar literasi, berhitung, dan bahasa Indonesia kepada anak-anak komunitas Orang Rimba sesuai dengan kebutuhan mereka.

"Saya nggak mau sekolah membuat anak-anak Rimba trauma bersekolah," katanya.

Di antara murid-muridnya, ada yang hingga kini tidak mau mengikuti pelajaran berhitung karena dia mengaku kepalanya "berasap" setiap kali mencoba berhitung, kata aktivis yang membagi penggalan pengalaman hidupnya di hutan Jambi itu dalam buku karyanya, "Sokola Rimba: Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba" (2008) ini.

Konsep sekolah sebenarnya tidak dikenal dalam budaya masyarakat Orang Rimba di Jambi sehingga lima bulan pertama upayanya mendekati mereka tidak berhasil. Namun dengan ketekunan dan tekad yang kuat, ia perlahan dapat menyadarkan mereka pada manfaat sekolah bagi mereka.

Setelah mereka menemukan dan merasakan sendiri manfaat sekolah untuk kehidupan mereka, baru mereka mau. "Murid pertama saya cuma tiga orang," katanya.

Negara cuma bantu sekali

Mengenai sejauh mana perhatian pemerintah dan bagaimana dampak anggaran pendidikan sebesar 20 persen dalam APBN terhadap masa depan pendidikan anak-anak suku terasing, termasuk Orang Rimba di Jambi, Butet Manurung mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memiliki visi yang sama dengan dirinya.

Bahkan Presiden Yudhoyono pernah menerima dirinya bersama beberapa orang rekannya tahun 2008. Pesan Kepala Negara saat itu sangat jelas, yakni "sekolah-sekolah pedalaman tidak boleh terlantar," katanya.

Sebagai tindak lanjut dari pertemuan dengan Presiden Yudhoyono, Butet kemudian bertemu mendiknas namun mendiknas justru mempertemukannya dengan direktur jenderal. Singkat kata, Diknas RI memberikan bantuan dana untuk satu dari enam sekolah yang dikelolanya bersama teman-temannya.

"Sekolah kita ada enam. Yang dibantu hanya satu sekolah. (Diknas RI) cuma bantu sekali itu saja," katanya.

Menurut aktivis yang menghabiskan sebagian masa kecilnya di Leuven, Belgia, sebelum keluarganya pindah ke Jakarta tahun 1976 ini, total dana operasional setiap sekolah yang dikelolanya bersama teman-temannya itu berbeda-beda.

Sebagai contoh, dana operasional Sokola Rimba di Jambi per tahunnya mencapai Rp150 juta, sedangkan dana operasional per bulan sekolah alternatif yang ada di Flores mencapai tiga sampai empat juta rupiah, dan sekolah alternatif yang ada di Halmahera, Maluku Utara, memerlukan dana operasional sebesar Rp250 juta, katanya.

Terlepas dari minimnya perhatian negara pada nasib pendidikan anak-anak terasing itu, Butet Manurung mengatakan, Sokola yang didirikannya bersama beberapa orang rekannya tahun 2003 ini tidak pernah kekurangan para sukarelawan muda yang siap terjun membantu kegiatan mengajar mereka.

"Padahal nggak ada gaji untuk mereka. Ternyata banyak juga yang cukup 'gila'. Sebelum terjun ke lapangan, kita beri mereka 'training' (pelatihan)," katanya.

Butet Manurung mengatakan, kegiatannya mengajar anak-anak Orang Rimba yang dilakukannya selama bertahun-bertahun sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah Jambi tahun 1999 itu bukan tanpa tantangan, termasuk dari para pencuri kayu yang bahkan pernah mengancam keselamatan dirinya.

Acara bincang-bincang ringan yang diselenggarakan pengurus Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Universitas Queensland (UQISA) itu juga diisi dengan penayangan film singkat tentang sepak terjang Butet Manurung dalam kegiatan Sokola Rimbanya di Jambi.

Banyak di antara para pelajar dan mahasiswa yang hadir membeli buku "Sokola Rimba: Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba" berisi rangkaian catatan pribadinya selama mengabdi untuk komunitas Orang Rimba di kawasan hutan Provinsi Jambi.

*) My news for ANTARA on Sept 30, 2009

Tuesday, September 29, 2009

AUSTRALIA MULAI VAKSINASI MASSAL FLU BABI

Langkah Australia menangani pandemi Flu A H1N1 yang telah menewaskan 180 orang di negara itu, Rabu, memasuki era baru dengan dimulainya program vaksinasi massal kepada para warga yang dianggap rentan terhadap serangan flu babi ini.

Program vaksinasi massal yang menurut laporan media setempat diberikan secara gratis kepada setiap warga Australia berusia 10 tahun ke atas itu dilaksanakan sebagai tindak lanjut dari hasil uji coba pemakaian vaksin Flu A H1N1 produksi perusahaan bioteknologi, CSL, kepada 240 orang warga di Adelaide, 22 Juli lalu.

Menurut Kementerian Kesehatan Australia, tujuh sasaran utama program vaksinasi Flu A H1N1 adalah ibu hamil, pengasuh bayi berusia enam bulan, dan warga yang menderita penyakit kronis seperti penyakit jantung, asma, paru-paru, kanker, diabetes, gagal ginjal, dan penyakit yang berhubungan dengan syaraf.

Selain itu, yang termasuk kelompok rentan adalah warga Australia yang menderita obesitas akut, warga pribumi, petugas kesehatan, dan pekerja sosial di masyarakat.

Berdasarkan data terkini Kementerian Kesehatan Australia, sejak flu babi dinyatakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai ancaman serius April lalu, total jumlah kasus terkonfirmasi Flu A H1N1 di Australia tercatat 36.605 orang. Sebanyak 180 orang di antaranya meninggal dunia.

Dari 180 orang korban meninggal dunia, itu sebanyak empat orang di antaranya adalah ibu hamil dan 24 orang lainnya merupakan warga pribumi Australia. Mereka tersebar di delapan negara bagian dan teritori yang ada di negara benua berpenduduk lebih dari 21 juta jiwa itu.

Kementerian Kesehatan Australia mencatat New South Wales sebagai negara bagian dengan angka kematian flu babi yang tertinggi, yakni 49 orang, disusul Queensland (40), Australia Barat (26), Australia Selatan (26), Victoria (24), Tasmania (7), Northern Territory (6) dan Australian Capital Territory (2).

Sejak flu babi menjangkiti Australia April lalu, sebanyak 4.788 orang warganya yang terjangkit dirawat di rumah sakit. Namun jumlah mereka yang sampai pekan ini masih dirawat tinggal 77 orang. Dari jumlah itu, lima orang di antaranya masuk dirawat secara intensif di rumah sakit negara bagian Queensland.

Belajar dari kasus flu babi 2009, pemerintah Australia tidak hanya telah memesan sekitar 21 juta dosis vaksin flu A H1N1 produksi CSL untuk mendukung program vaksinasi massal tetapi juga memperkuat kesiapan pusat-pusat flu nasional dan laboratorium-laboratorium kesehatan masyarakat di negara itu.

Untuk keperluan itu, pemerintah federal telah pun menyiapkan dana sebesar 1,4 juta dolar Australia guna membeli berbagai peralatan uji influenza otomatis yang diperlukan semua pusat flu nasional dan laboratorium kesehatan masyarakat yang ada di delapan negara bagian dan teritori.

*) My news for ANTARA on Sept 30, 2009

TSUNAMI SAMOA LUKAI TUJUH WARGA AUSTRALIA

Pemerintah Australia mengkhawatirkan nasib warganya yang sedang berlibur di Samoa kendati hingga Rabu pukul 13.09 waktu Brisbane jumlah warganya yang terluka dalam bencana tsunami yang menyapu sejumlah wilayah negara kepulauan di Pasifik Selatan, Rabu pagi, itu tercatat tujuh orang.

Menurut "ABC", dalam penjelasan persnya setibanya di Singapura dari lawatannya ke Amerika Serikat (AS), Menteri Luar Negeri Stephen Smith menegaskan, ke-tujuh warga Australia yang terluka itu sedang dirawat di rumah sakit setempat.

Namun Menlu Smith mengkhawatirkan nasib warganya yang kemungkinan berlibur di wilayah yang disapu tsunami tersebut. Bencana gelombang besar ini dipicu gempa bumi berkekuatan 8,3 pada Skala Richter di perairan laut baratdaya Samoa Amerika.

Menlu Smith mengatakan, Australia segera mengirimkan tim satuan tugasnya ke Samoa dalam 24 jam ini terlebih lagi terjadi kerusakan di wilayah tenggara negara berpenduduk sekitar 179 ribu orang itu.

"Di Samoa, wilayah tenggaranya yang terkena bencana itu berdiri sebagian besar resor wisata mewah maupun murah," katanya.

Bencana tsunami yang menyapu sebagian wilayah negara yang merdeka dari Selandia Baru tahun 1962 dan resmi menjadi anggota PBB pada 15 Desember 1976 itu dilaporkan menewaskan sedikitnya 100 orang.

*) My news for ANTARA on Sept 30, 2009

ANGKLUNG "IKON" INDONESIA DI ACARA MAHASISWA ASEAN

Komunitas mahasiswa Indonesia di Brisbane meneguhkan batik dan angklung sebagai dua "ikon" warisan budaya bangsa Indonesia pada festival seni budaya Asia Tenggara di depan ratusan mahasiswa mancanegara di kawasan danau kampus Universitas Queensland (UQ) St.Lucia, Selasa.

Dalam kegiatan pesta seni budaya dan kuliner acara "ASEAN Uni Games 2009" yang diikuti organisasi mahasiswa Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia dan Singapura itu, kehadiran batik ditopang oleh busana dua puluhan orang pemain angklung dan ornamen yang digunakan beberapa gerai kontingen Merah Putih.

Konser angklung mahasiswa Indonesia yang para pemainnya berasal dari UQ, Universitas Teknologi Queensland, dan Universitas Griffith itu membawakan empat lagu.

Diiringi petikan gitar, grup angklung Indonesia itu menghibur puluhan pengunjung dengan lagu "Tanah Airku", "Ondel-Ondel", "Indonesia Jaya" dan "Laskar Pelangi". Kemudian, seorang aktivis mahasiswi Indonesia di UQ memperkaya penampilan kontingen Merah Putih dengan beberapa lagu daerah Nusantara.

Menurut Salim Darmadi, kegiatan seni-budaya, kuliner, dan pertandingan olahraga antarmahasiswa dari ke-empat negara anggota Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) ini sangat mendukung upaya mempererat tali persahabatan antarmahasiswa ASEAN.

Pandangan yang sama juga disampaikan Christine Low, mahasiswi Singapura di UQ. Ia mengatakan, kegiatan "ASEAN Uni Games" ini akan membantu mengintegrasikan komunitas mahasiswa ASEAN, khususnya mereka yang berasal dari Singapura, Indonesia, Brunei, dan Malaysia.

"ASEAN Uni Games ini kegiatan yang bagus. Perlu ada lebih banyak kegiatan bersama yang dilakukan," kata anggota Komunitas Mahasiswa Singapura di UQ ini.

Singapura sumbang lagu
Sementara itu, kalau Indonesia menampilkan angklung dan lagu-lagu daerah, menurut Christine Low, Singapura menyumbangkan lagu yang populer saat perayaan Hari Raya Imlek (Tahun Baru China), "He Xin Nian".

Berbeda dengan Indonesia dan Singapura, Malaysia menyuguhkan beberapa tarian dan pameran busana khas negeri jiran itu.

Menurut mantan Presiden Perhimpunan Mahasiswa Malaysia di UQ, Johan Kamal Hamidon, pihaknya menampilkan tari Zapin dan tari India, serta pameran busana tradisional dari sejumlah kelompok etnis di Sabah.

Selain dihibur dengan aneka pertunjukan seni-budaya, puluhan orang pengunjung festival ASEAN Uni Games 2009 yang penyelenggaraannya bertepatan dengan pekan libur tengah semester kampus itu juga dimanjakan dengan aneka makanan khas Indonesia, Brunei, Malaysia dan Singapura.

Setidaknya ada delapan gerai yang menawarkan aneka menu masakan dengan "harga mahasiswa". Gerai makanan Indonesia tampak menonjol karena tidak hanya menghadirkan gerai yang dikelola mahasiswa tetapi juga keluarga mahasiswa dan warga, seperti "Makanan Indonesia" dan "Sweet Javanese".

Gerai "Makanan Indonesia" menawarkan menu masakan ampal, ikan goreng sambal balado, dan ayam goreng, sedangkan "Sweet Javanese" menyuguhkan sejumlah menu andalan, seperti martabak telur, siomay, dan "es Kopyor" dengan harga satu sampai lima dolar Australia.

Gerai makanan yang dikelola Hemy Arwandy, Masyhadi Halidi dan beberapa orang rekannya menawarkan menu berupa "nasi Katok" berisi nasi lemak, ayam dan sambal, "nasi lemak", dan Pop Mie buatan Indonesia, sedangkan gerai makanan mahasiswa Singapura menjual satai dan aneka makanan ringan seharga dua dolar.

Para pengunjung pun disuguhkan tontonan film gratis di gedung teater "Schonell" UQ. Film Indonesia "Ada Apa dengan Cinta" dan film Singapura "I Not Stupid" (Saya Tidak Bodoh) ditayangkan masing-masing pada pukul 11.00-13.00 dan 15.00-17.00.

Berkaitan dengan pesta olahraga yang menjadi inti parlehatan "ASEAN Uni Games" ini, panitia menetapkan enam cabang olahraga yang dipertandingkan. Ke-enam cabang olahraga itu adalah sepakbola, "touch rugby", atletik, "netball", futsal, dan bola basket.

Kontingen Indonesia mengikuti semua cabang yang dipertandingkan di pesta olahraga yang berlangsung dari Minggu (27/9) hingga Kamis (1/10) itu.

*) My news for ANTARA on Sept 29, 2009

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity