Sunday, May 24, 2009

PUBLIK AUSTRALIA TIDAK ANGGAP ISLAM ANCAMAN

Representasi media Australia yang cenderung sensasional dan negatif tentang Islam dan umat Islam serta sikap abai telah memicu mispersepsi sebagian warga negara itu terhadap muslim namun mayoritas rakyat Australia tidak menganggap muslim sebagai ancaman negara.

Fakta itu terungkap dalam dialog terbuka belasan remaja dan pemuda muslim Australia yang mengupas topik "diskriminasi, prasangka dan peminggiran sosial" dalam acara "Muslim Youth Speaks Out" di kampus Universitas Griffith, Mt Gravatt, Brisbane, Minggu.

Para peserta dialog terbuka yang dipandu Wakil Direktur Unit Riset Islam Universitas Griffith, Dr.Halim Rane, itu juga menggarisbawahi beberapa akar penyebab munculnya kesalahfahaman dan aksi diskriminasi terhadap muslim di Australia.

Beberapa akar penyebab prilaku dan aksi negatif tersebut adalah adanya ketakutan akibat merasa asing dengan berbagai hal yang berkaitan dengan Islam dan penganutnya, prilaku muslim, serta anggapan bahwa muslim menantang kebiasaan menyenangkan yang telah umum di Australia.

Terlepas dari masih adanya mispersepsi terhadap muslim itu, Dr.Halim Rane menegaskan bahwa berdasarkan hasil riset pihaknya tahun 2006 terhadap sejumlah responden non-muslim di kota Brisbane dan sekitarnya, pihaknya mendapati hasil yang positif.

Hasil riset tersebut antara lain mendapati 67 persen responden non-muslim Australia dapat menerima muslim sebagai bagian dari masyarakat Australia dan 78 persen responden juga tidak memandang muslim sebagai ancaman terhadap negara, katanya.

Halim Rene juga mengingatkan para remaja dan pemuda muslim Australia agar tetap berprasangka baik terhadap pandangan mayoritas rakyat terhadap mereka karena sekalipun representasi media masih cenderung sensasional tentang Islam, tingkat kepercayaan publik terhadap media di Australia relatif rendah.

Untuk memperbaiki pemahaman publik yang lebih baik tentang Islam dan umat Islam Australia, para peserta dialog sepakat untuk terus membangun dialog antar-iman dan lebih berinteraksi dengan lingkungan sekitar dan bahkan mengundang para warga non-muslim untuk menghadiri kegiatan-kegiatan sosial keislaman.

Selain itu, mereka juga memandang perlunya para akademisi muslim lebih aktif menulis dan menjadi kolumnis tetap media cetak arus utama Australia, serta para pemuda terdidik muslim menjadi wartawan berbagai media negara itu.

Diskusi terbuka bertajuk "Pemuda Muslim Angkat Bicara" yang diselenggarakan "Muslim Youth Service" bekerja sama dengan sejumlah organisasi keislaman di Queensland itu menghadirkan Selebriti muslim Australia, Nazeem Hussain.

Ia menilai mayoritas warga non-muslim di negaranya belum mengerti Islam dan umat Islam sebagaimana terlihat dari isi surat-surat elektronik (email) yang dikirim para pemirsa "Salam Cafe", acara "talkshow" komedi populer Stasiun TV "SBS".

"Sembilan puluh lima persen email yang dikirim pemirsa acara 'Salam Cafe' SBS memperlihatkan rendahnya pengetahuan mereka tentang Islam dan umat Islam di Australia," kata personil "Salam Cafe" itu.

Bahkan, di antara para pemirsa yang mengirim surat setelah menyaksikan acara bincang-bincang "Salam Cafe" yang disiarkan setiap Rabu itu, ada yang berterus-terang mengatakan bahwa selama ini dia tidak tahu bahwa wanita muslim Australia juga bisa lancar berbahasa Inggris dan "muslim juga berpendidikan", katanya.

Menurut Nazeem Hussain, mispersepsi dan ketidakmengertian publik non-muslim Australia tentang Islam tidak dapat dilepaskan dari konsumsi berita dan tayangan media selama ini. Kondisi ini menuntut keterlibatan komunitas muslim, termasuk generasi mudanya, dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan bagi kemaslahatan bersama.

Keterlibatan muslim dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan itu selaras dengan nilai-nilai Islam yang menekankan bahwa muslim terbaik itu adalah mereka yang tidak hanya bermanfaat bagi sesama muslim tetapi juga bagi umat manusia pada umumnya tanpa kecuali, katanya.

Acara yang diikuti sedikitnya 80 orang remaja dan pemuda muslim di Brisbane itu diisi dengan berbagi pengalaman pribadi sebagai minoritas muslim dalam mempertahankan identitas keislaman di tengah linkungan sosial Australia yang berbeda.

Acara tersebut juga diisi dengan diskusi kelompok yang menyoroti masalah penggunaan jilbab, tekanan teman, dan isu-isu kegiatan kepemudaan di masyarakat.

*) My news for ANTARA on May 24, 2009

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity