Friday, May 22, 2009

PENYATUAN ETNIS TIONGHOA DI INDONESIA BERJALAN "POSITIF"

Kelompok minoritas Tionghoa cenderung semakin dapat diterima dan menyatu dengan mayoritas penduduk asli Indonesia sebagai dampak positif dari keleluasaan dan kebebasan yang berkembang di era reformasi namun pandangan stereotipe tentang mereka masih tetap ada.

Pendapat itu disampaikan Indonesianis asal Inggris, Dr.Susan Giblin, dalam seminar akademis terbatas bertema "Inklusi Paradoks -Menjadi Tionghoa di Indonesia" yang diselenggarakan Sekolah Ilmu Politik dan Studi Internasional Universitas Queensland (UQ), Brisbane, Jumat.

"Proses inklusi kelompok Tionghoa Indonesia berlangsung positif sekalipun masih dijumpai masalah yang berkaitan dengan stereotipe," katanya.

Giblin mengatakan, pengalaman buruk kelompok etnis Tionghoa di Indonesia selama 32 tahun masa Orde Baru (1966-1998) seperti dilarangnya pemakaian bahan-bahan berbahasa China, terjadinya represi budaya, dan tidak diakuinya Konfusius sebagai kepercayaan, tidak lagi tampak sejak tumbangnya pemerintahan Soeharto.

Namun, di tengah upaya masyarakat Tionghoa menunjukkan keindonesiaan mereka supaya dapat diterima mayoritas bangsa Indonesia melalui penerbitan manifesto dan karya sastra misalnya masih terhadang oleh hal-hal yang paradoks akibat masih adanya pandangan stereotipe terhadap mereka, katanya.

Dalam pemaparannya, Dr.Giblin menjelaskan secara panjang lebar tentang pengalaman kelompok etnis Tionghoa dalam konteks diskursus Indonesia sejak era 1909 - 1950, 1966-1998, dan pasca-1998.

Penulis artikel "Civil Society Groups Overcoming Stereotypes? Chinese Indonesian Civil Society Groups in Post-Suharto Indonesia" (2003) itu menjelaskan berbagai perkembangan positif kehidupan minoritas Tionghoa Indonesia di era reformasi dilihat dari aspek budaya, keyakinan, kewarganegaraan, penghapusan SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan RI), hukum dan peluang politik.

Hanya saja, perkembangan positif tentang bersatunya kehidupan masyarakat Tionghoa dengan mayoritas bangsa Indonesia di era reformasi itu cenderung belum terjadi di tingkat "lokal" karena penghapusan SBKRI sejak era BJ Habibie masih sering diabaikan oleh birokrat di daerah.

"Di tingkat lokal, masih banyak pihak yang tidak memperdulikan hukum yang berlaku," katanya.

Jumlah warga Tionghoa diperkirakan sekitar empat persen dari total penduduk Indonesia.

Seminar akademik terbatas itu dihadiri sejumlah staf pengajar, mahasiswa dan pemerhati masalah Indonesia di UQ, termasuk sejarawan kondang Prof.Robert Elson.

*) My news for ANTARA on May 22, 2009

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity