"Sembilan puluh lima persen email yang dikirim pemirsa acara 'Salam Cafe' SBS memperlihatkan rendahnya pengetahuan mereka tentang Islam dan umat Islam di Australia," kata personil "Salam Cafe" itu di depan puluhan peserta acara "Muslim Youth Speaks Out" di kampus Universitas Griffith, Mt Gravatt, Brisbane, Minggu.
Bahkan, di antara para pemirsa yang mengirim surat setelah menyaksikan acara bincang-bincang "Salam Cafe" yang disiarkan setiap Rabu itu, ada yang berterus-terang mengatakan bahwa selama ini dia tidak tahu bahwa wanita muslim Australia juga bisa lancar berbahasa Inggris dan "muslim juga berpendidikan", katanya.
Acara bincang-bincang tentang berbagai sisi lucu kehidupan komunitas muslim Australia itu didukung tujuh orang personil. Selain Nazeem Hussain, juga ada Ahmed Imam, Waleed Aly, Susan Carland, Ahmed Hassan, Dakhylina Madkhul, dan Toltu Tufa.
Menurut Nazeem Hussain, mispersepsi dan ketidakmengertian publik non-muslim Australia tentang Islam tidak dapat dilepaskan dari konsumsi berita dan tayangan media selama ini. Kondisi ini menuntut keterlibatan komunitas muslim, termasuk generasi mudanya, dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan bagi kemaslahatan bersama.
Keterlibatan muslim dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan itu selaras dengan nilai-nilai Islam yang menekankan bahwa muslim terbaik itu adalah mereka yang tidak hanya bermanfaat bagi sesama muslim tetapi juga bagi umat manusia pada umumnya tanpa kecuali, katanya.
Namun, lanjut mantan peserta program pertukaran tokoh muda muslim Australia-Indonesia tahun 2007 ini, generasi muda muslim harus dapat menjadi diri mereka sendiri di tengah lingkungan sosial yang berbeda di Australia.
Dalam menjalani kehidupannya, generasi muda muslim hendaknya "dapat menemukan kembali Islam" supaya "pandangan mereka tentang Islam bisa lebih oyektif", katanya.
"Muslim cenderung melihat Islam berdasarkan cara pandangnya yang sudah terbangun. Cobalah menemukan kembali Islam supaya kita bisa lebih obyektif dan tidak lagi defensif (dalam memandang Islam)," katanya.
Diskusi terbuka bertajuk "Pemuda Muslim Angkat Bicara" yang diselenggarakan "Muslim Youth Service" bekerja sama dengan sejumlah organisasi keislaman di Queensland itu diisi dengan berbagi pengalaman pribadi sebagai minoritas muslim dalam mempertahankan identitas keislaman di tengah linkungan sosial Australia yang berbeda.
Acara yang diikuti sedikitnya 80 orang remaja dan pemuda muslim di Brisbane itu diakhiri dengan diskusi kelompok yang menyoroti empat topik utama, yakni masalah diskriminasi, prasangka, dan peminggiran sosial; penggunaan jilbab, tekanan teman, dan isu-isu kegiatan kepemudaan di masyarakat.
*) My news for ANTARA on May 24, 2009

No comments:
Post a Comment