Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di KBRI Canberra segera menyiapkan 10 orang guru bantu bahasa Indonesia bagi sekolah-sekolah yang mengajarkan bahasa Indonesia di negara bagian Australian Capital Territory (ACT)."Menindaklanjuti Konferensi Bahasa Indonesia kedua di Canberra 1 Mei lalu, kita akan menyeleksi sepuluh orang guru bantu dari kalangan mahasiswa pasca-sarjana Indonesia untuk diperbantukan di sekolah-sekolah di ACT," kata Adikbud RI di KBRI Canberra, Dr.Aris Junaidi, dalam penjelasannya kepada ANTARA, Senin.
Selain menyeleksi 10 orang guru bantu, pihaknya juga mengundang para kepala sekolah dan dewan sekolah se-ACT untuk menghadiri acara dialog dan bersantap siang bersama dengan Duta Besar RI untuk Australia dan Vanuatu, Primo Alui Joelianto, 21 Mei mendatang.
"Kita juga akan menyeleksi lima belas sampai dua puluh sekolah di Australia untuk dapat menjadi mitra sekolah-sekolah di Indonesia," katanya.
Aris Junaidi mengatakan, pihaknya menggelar Konferensi Bahasa Indonesia kedua di Balai Kartini KBRI Canberra dengan mengambil tema "Strategi Promosi Pengajaran Bahasa Indonesia di Sekolah-Sekolah" sebagai bagian dari upaya bersama mengembalikan popularitas bahasa Indonesia di Australia.
Berbagai isu menarik mengemuka di konferensi yang dibuka Dubes Primo dan diikuti 45 orang peserta dari kalangan guru dan dosen bahasa Indonesia dari berbagai sekolah yang ada di negara bagian ACT dan New South Wales itu, katanya.
"Di antara isu-isu menarik yang muncul pada sesi diskusi panel berhubungan dengan beberapa hambatan dalam mempromosikan pelajaran dan pengajaran Bahasa Indonesia di Australia."
Pemberlakuan "Travel Advisory" (peringatan perjalanan) level empat kepada Indonesia dipandang sebagian besar staf pengajar dan pelajar Australia sebagai hambatan karena mereka tidak diperbolehkan mengunjungi Indonesia dalam rangka studi, katanya.
"Kondisi ini mengakibatkan para pengajar Bahasa Indonesia tidak dapat meningkatkan kemampuan bahasa dan para pelajar tidak tertarik pada Indonesia. Selain itu, kekurangan guru Bahasa Indonesia di Australia tidak dapat diatasi dengan mendatangkan tenaga pengajar dari Indonesia," kata Aris Junaidi.
Hal ini disebabkan oleh adanya sejumlah persyaratan, termasuk persyaratan akreditasi tertentu pemerintah Australia yang wajib dipenuhi seorang guru sebelum diperbolehkan mengajar di negara itu, katanya.
Berkaitan dengan masalah "peringatan perjalanan" level empat kepada Indonesia, Broughton Robertson (perwakilan dari Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia) menjelaskan bahwa "travel advisory" itu hanya "merupakan himbauan" dan "bukan pelarangan".
"Travel Advisory ini hanya merupakan himbauan saja. Jadi tidak melarang orang Australia berkunjung ke Indonesia. Saat ini Indonesia mendapat level empat, dan ada kemungkinan dalam waktu dekat akan berubah menjadi level tiga," katanya mengutip penjelasan Robertson.
Acara Konferensi Bahasa Indonesia yang menghadirkan kalangan akademisi dan pejabat pemerintah ACT dan pemerintah federal yang mengurus masalah pendidikan, seperti Elizabeth Courtois, Suzanne Northcott, Michael Traynor, dan Dr. George Quinn itu juga diisi dengan lokakarya seni-budaya Indonesia bagi para guru.
*) My news for ANTARA on May 18, 2009

No comments:
Post a Comment