Monday, May 18, 2009

INDONESIA SIAPKAN 10 GURU BANTU BAGI SEKOLAH AUSTRALIA

Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di KBRI Canberra segera menyiapkan 10 orang guru bantu bahasa Indonesia bagi sekolah-sekolah yang mengajarkan bahasa Indonesia di negara bagian Australian Capital Territory (ACT).

"Menindaklanjuti Konferensi Bahasa Indonesia kedua di Canberra 1 Mei lalu, kita akan menyeleksi sepuluh orang guru bantu dari kalangan mahasiswa pasca-sarjana Indonesia untuk diperbantukan di sekolah-sekolah di ACT," kata Adikbud RI di KBRI Canberra, Dr.Aris Junaidi, dalam penjelasannya kepada ANTARA, Senin.

Selain menyeleksi 10 orang guru bantu, pihaknya juga mengundang para kepala sekolah dan dewan sekolah se-ACT untuk menghadiri acara dialog dan bersantap siang bersama dengan Duta Besar RI untuk Australia dan Vanuatu, Primo Alui Joelianto, 21 Mei mendatang.

"Kita juga akan menyeleksi lima belas sampai dua puluh sekolah di Australia untuk dapat menjadi mitra sekolah-sekolah di Indonesia," katanya.

Aris Junaidi mengatakan, pihaknya menggelar Konferensi Bahasa Indonesia kedua di Balai Kartini KBRI Canberra dengan mengambil tema "Strategi Promosi Pengajaran Bahasa Indonesia di Sekolah-Sekolah" sebagai bagian dari upaya bersama mengembalikan popularitas bahasa Indonesia di Australia.

Berbagai isu menarik mengemuka di konferensi yang dibuka Dubes Primo dan diikuti 45 orang peserta dari kalangan guru dan dosen bahasa Indonesia dari berbagai sekolah yang ada di negara bagian ACT dan New South Wales itu, katanya.

"Di antara isu-isu menarik yang muncul pada sesi diskusi panel berhubungan dengan beberapa hambatan dalam mempromosikan pelajaran dan pengajaran Bahasa Indonesia di Australia."

Pemberlakuan "Travel Advisory" (peringatan perjalanan) level empat kepada Indonesia dipandang sebagian besar staf pengajar dan pelajar Australia sebagai hambatan karena mereka tidak diperbolehkan mengunjungi Indonesia dalam rangka studi, katanya.

"Kondisi ini mengakibatkan para pengajar Bahasa Indonesia tidak dapat meningkatkan kemampuan bahasa dan para pelajar tidak tertarik pada Indonesia. Selain itu, kekurangan guru Bahasa Indonesia di Australia tidak dapat diatasi dengan mendatangkan tenaga pengajar dari Indonesia," kata Aris Junaidi.

Hal ini disebabkan oleh adanya sejumlah persyaratan, termasuk persyaratan akreditasi tertentu pemerintah Australia yang wajib dipenuhi seorang guru sebelum diperbolehkan mengajar di negara itu, katanya.

Berkaitan dengan masalah "peringatan perjalanan" level empat kepada Indonesia, Broughton Robertson (perwakilan dari Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia) menjelaskan bahwa "travel advisory" itu hanya "merupakan himbauan" dan "bukan pelarangan".

"Travel Advisory ini hanya merupakan himbauan saja. Jadi tidak melarang orang Australia berkunjung ke Indonesia. Saat ini Indonesia mendapat level empat, dan ada kemungkinan dalam waktu dekat akan berubah menjadi level tiga," katanya mengutip penjelasan Robertson.

Acara Konferensi Bahasa Indonesia yang menghadirkan kalangan akademisi dan pejabat pemerintah ACT dan pemerintah federal yang mengurus masalah pendidikan, seperti Elizabeth Courtois, Suzanne Northcott, Michael Traynor, dan Dr. George Quinn itu juga diisi dengan lokakarya seni-budaya Indonesia bagi para guru.

Popularitas bahasa Indonesia di Australia cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir namun pemerintah Australia mencatat masih ada sekitar 170 ribu orang siswanya yang belajar bahasa Indonesia di sekolah-sekolah milik pemerintah.

*) My news for ANTARA on May 18, 2009

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity