Saturday, May 16, 2009

INDONESIA GAGAL SABET EMAS SEPAKBOLA "ARAFURA GAMES"

Impian menambah medali emas bagi kontingen Indonesia dari cabang sepakbola Pesta Olahraga dua tahunan "Arafura Games" kandas setelah kesebelasan "Tanah Rencong" kalah 0-3 dari anak-anak Timor Leste dalam pertandingan final di Stadion Sepakbola Marrara, Darwin, Sabtu malam.

Staf lokal Konsulat RI Darwin, Abdul Hamid, yang menyaksikan langsung pertandingan itu mengatakan, pertandingan berlangsung seru dan tim "Merah Putih" mendapat dukungan cukup besar dari warga masyarakat Indonesia di kota Darwin dan sekitarnya namun Timor Leste kembali terbukti "lebih unggul".

"Satu dari tiga gol yang bersarang di gawang kita berasal dari tendangan penalti. Ada perasaan sedih karena tim kita kalah tapi para pemain kita sudah berusaha maksimal," katanya.

Pertemuan kesebelasan Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dan Timor Leste Sabtu malam ini merupakan yang kedua setelah di putaran awal. Pada perjumpaan pertama, anak-anak Timor Leste juga berhasil menekuk tim Aceh dengan skor 4-0.

Sehari sebelumnya, Sekjen Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh, Drs.Nuzuli MS mengatakan kepada ANTARA, Gubernur NAD, Irwandi Yusuf, sempat menjanjikan bonus khusus bagi setiap atlet sepakbola Aceh jika mereka berhasil menundukkan tim kuat Timor Leste di babak final, Sabtu malam.

"Pak Gubernur berjanji memberikan bonus khusus kepada tim sepakbola kita kalau menang lawan Timor Leste. Beliau juga akan menjemput langsung kontingen Aceh di Bandar Udara Sultan Iskandar Muda saat kita kembali 18 Mei," katanya.

Dengan adanya tambahan satu medali perak dari cabang sepakbola, para atlet Aceh telah menyumbangkan lima medali emas, delapan perak, dan enam perunggu untuk pundi-pundi medali kontingen Indonesia di pesta olahraga yang diikuti 3.000 atlet dari 40-an negara ini.

Prestasi anak-anak "Tanah Rencong" di ajang olahraga internasional yang berlangsung dari 9 hingga 17 Mei itu mendapat penghargaan yang tinggi dari Pemprov NAD terbukti dari rencana penyelenggaraan kirab keliling kota Banda Aceh saat mereka kembali 18 Mei dengan pesawat Garuda Indonesia yang dicarter khusus, katanya.

Nuzuli mengatakan, tiga dari lima medali emas yang diperoleh kontingen Aceh di Arafura Games berasal dari cabang menembak atas nama atlet putri, Indah Juwita, yang turun di kelas "Air Rifle Match" 10 meter perorangan putri dan campuran, serta tim beregu putra yang terdiri dari Didik, Boy dan Reza Fikri.

Medali emas ke-empat dan kelima disumbang Perenang putri, Serli Yunita, yang turun di nomor final 200 meter gaya kupu-kupu, dan Atlet Lompat Tinggi Syahrial.

Selain diperkuat para atlet Aceh, kontingen Indonesia di Arafura Games juga didukung sejumlah atlet dari Provinsi Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Barat, Bali, dan Maluku.

Memasuki hari ketujuh Arafura Games, tim tuan rumah, Australia, semakin jauh meninggalkan negara-negara peserta lainnya dalam perolehan medali.

Hingga pukul 22.00 waktu Darwin, Australia mengumpulkan 486 medali (193 emas, 154 perak dan 139 perunggu), disusul Kaledonia Baru (25 emas, 29 perak, dan 37 perunggu), Selandia Baru (23, 31, 21), Macau-China (20, 20, 9), Singapura (18, 11, 17), dan Malaysia (29, 10, 16).

Seterusnya Indonesia 13 emas, 16 perak, dan 16 perunggu, Jepang (7, 3, 5), Papua New Guinea (7, 14, 17), Hong Kong-China (5, 6, 11), Uni Emirat Arab ( 4, 0, 5), Thailand (4, 6, 2), dan Taiwan (4, 3, 0).

*) My updated news for ANTARA on May 16, 2009

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity