Untuk pertama kali sejak Lembaga Australia-Indonesia (AII) meluncurkan program pertukaran pemimpin muda Muslim Australia-Indonesia tahun 2002, para tokoh muda Muslim Indonesia yang mengikuti program ini diterima gubernur jenderal Australia di Wisma Pemerintah Canberra.Momen bersejarah itu diukir Gubernur Jenderal Australia, Quentin Bryce, dengan menerima kunjungan Dede Syarif, Samsul Ma'arif Mujiharto, dan Zainuri, aktivis dan cendekiawan muda muslim asal Jawa Barat, Yogyakarta, dan Mataram, di Wisma Pemerintah Canberra, 11 Mei lalu.
Dalam penjelasannya kepada ANTARA, Kamis, Koordinator Program Pertukaran Pemimpin Muda Muslim Australia-Indonesia untuk Canberra, Umar Faruk Assegaf, mengatakan, Quentin Bryce menerima ketiganya sekitar pukul 11.30 waktu setempat.
Pada kesempatan itu, gubernur jenderal menekankan pentingnya penguatan hubungan antarwarga Australia-Indonesia dan upaya bersama saling mengenal budaya masing-masing dan segala aspeknya guna membangun hubungan yang lebih kokoh dan stabil, katanya.
Dosen Filsafat Universitas Gadjah Mada, Samsul Ma'arif Mujiharto, sempat menjelaskan seluk beluk pembuatan Batik tulis dan memberikan cinderamata kepada Gubernur Jenderal Quentin Bryce.
Umar Faruk mengatakan, ramah tamah gubernur jenderal dengan ketiga peserta program AII ini bukan yang terakhir karena ia akan tetap terbuka menerima para peserta program yang sama di masa mendatang.
Di mata Quentin Bryce, hubungan kedua negara yang lebih stabil turut ditentukan oleh peran para pemuda yang akan menjadi pemimpin masa depan.
"Sepanjang tujuh tahun program ini, setahu saya, baru kali ini ada peserta yang diterima gubernur jenderal. Hal ini menandakan betapa pentingnya program ini bagi penguatan hubungan Indonesia-Australia. Sayangnya ada sementara pihak yang menganggap para duta bangsa kita ini sekadar 'jalan-jalan', " kata Umar.
Umar mengatakan, para peserta program pertukaran pemimpin muda Muslim Australia-Indonesia ini adalah "duta-duta bangsa Indonesia" yang kehadirannya dilengkapi dengan agenda kegiatan yang jelas dan positif bagi diplomasi total Indonesia di Australia.
Selama mengikuti program kunjungan dari 3-17 Mei, para peserta tidak hanya diberi kesempatan bertemu dan berdialog dengan kalangan pemerintah, akademisi, agamawan, dan media, tetapi juga mengunjungi rumah ibadah dan sekolah di Melbourne, Canberra dan Sydney sebagai tiga kota sasaran.
Beri kontribusi besar
Sebelumnya, dalam perbincangan dengan ANTARA, Direktur AII, Jenny Cartmill, mengatakan, para pemimpin muda Muslim Indonesia-Australia yang pernah mengikuti program AII ini terbukti memberi kontribusi besar pada terbangun dan meluasnya jaringan kerja sama antarindividu dan lembaga masyarakat madani kedua negara.
Bahkan banyak di antara para alumni program pertukaran ini yang memainkan peranan penting di masyarakat melalui lembaga-lembaga swadaya dan perguruan tinggi yang mereka masuki, katanya.
Sepanjang 2009, pihaknya mendatangkan 10 orang tokoh muda Islam Indonesia untuk mengikuti program ini. Sebaliknya, AII pun mengirim lima orang pemimpin muda Muslim Australia ke Indonesia dengan misi yang sama.
Kedatangan para peserta Indonesia itu dibagi dalam tiga kelompok. Kelompok pertama datang Maret lalu, sedangkan grup kedua tiba Mei dan yang ketiga Juni, katanya.
Di antara para pemimpin muda Muslim Australia yang merupakan alumni program ini adalah tiga orang pengisi acara "Salam Cafe" Stasiun TV "SBS", seperti Naseem Husein dan Sarah Malik. "Jadi program ini sangat berhasil," kata Cartmill.
Dengan program yang diselenggarakan AII bersama Institut Asia Universitas Melbourne dan Dewan Islam Victoria ini, ia mengharapkan terbangun saling pemahaman yang benar tentang Islam dan agama-agama lain serta dinamika kehidupan masyarakat plural di kedua negara.
Para alumni program ini sangat didorong untuk memperluas jaringan kerja sama antarmereka dan dengan lembaga lain untuk memperkuat hubungan antarmasyarakat, katanya.

No comments:
Post a Comment