Pemimpin oposisi negara bagian Northern Territory (NT) Terry Mills mendukung kembalinya Garuda ke Darwin karena Garuda bukan sekadar maskapai penerbangan bagi rakyat Australia Utara tetapi kehadirannya yang hampir 30 tahun di kota Darwin itu juga penguat kerja sama bilateral Indonesia-NT."Saya ingin meletakkan persahabatan Australia dengan Indonesia lewat Garuda karena Garuda bukan sekadar maskapai penerbangan tetapi ia juga hubungan bilateral itu sendiri," katanya kepada ANTARA di Darwin, 14 Mei lalu, sehubungan dengan penghentian operasional Garuda di NT sejak 22 April 2009.
Penghentian rute penerbangan Denpasar-Darwin yang sudah berjalan selama hampir 30 tahun itu sangat disayangkan sekalipun ia memahami keputusan manajemen Garuda di Jakarta itu disemangati oleh "pertimbangan komersial" pasar penerbangan dalam negeri Indonesia, kata Mills.
Namun, ketidakhadiran Garuda di negara bagian paling utara Australia itu telah menghilangkan salah satu jembatan penting hubungan rakyat NT dan Indonesia, katanya.
Karena itu, upaya pengembalian Garuda ke Darwin merupakan kepentingan bersama kubu pemerintah dan oposisi di NT karena maskapai penerbangan ini merupakan "wajah Indonesia" dan "jembatan hubungan kedua bangsa", kata Mills.
Pihaknya pun mendukung pertemuan antara pejabat pemerintah NT dengan menteri negara BUMN, menteri perhubungan dan direktur utama Garuda di Jakarta 8 Mei lalu sebagai bagian dari upaya mengembalikan maskapai penerbangan nasional Indonesia ini ke Darwin, katanya.
Menurut politisi senior NT ini, hengkangnya Garuda dari Darwin bisa saja merupakan akibat subsidi sepihak yang diberikan pemerintah NT sebagai bagian dari janji kampanye Pemilu sembilan bulan lalu kepada Jetstar. "Subsidi yang hanya diberikan kepada Jetstar itu telah melukai Garuda," katanya.
Terlepas dari itu semua, Mills mengharapkan Garuda dapat kembali menerbangi Darwin. Bahkan, ia mengusulkan kepada manajemen Garuda agar membuka rute penerbangan Darwin-Kupang-Denpasar guna mendukung peningkatan kerja sama NT dengan kawasan timur Indonesia.
Didukung biro perjalanan
Dukungan pada kembalinya Garuda melayani rute penerbangan Denpasar-Darwin juga datang dari kalangan pengusaha biro perjalanan wisata utama di Darwin.
Pimpinan "Travel Seven" Darwin, Xana Kamitsis, misalnya, menegaskan janjinya untuk membantu Garuda mengisi sedikitnya 65 persen dari total kapasitas kursi penumpang jika maskapai penerbangan nasional Indonesia ini kembali menerbangi Darwin.
"Kalau Garuda mematok kapasitas penumpang yang terisi minimal 65 persen, saya fikir jumlah itu bisa kami penuhi. Itu dapat dicapai," katanya.
Sebelumnya, Manajer Umum Garuda di Darwin, Syahrul Tahir, yang ditemui secara terpisah mengatakan, sejumlah biro perjalanan utama Australia sudah siap membantu pihaknya mendapatkan 65 persen dari kapasitas penuh kursi penumpang jika Garuda kembali menerbangi ibukota negara bagian NT itu mulai Juli 2009.
"Mereka (biro-biro perjalanan di Darwin-red.) berjanji mengamankan 65 persen dari total kapasitas tempat duduk per pesawat untuk membantu Garuda mencapai 'break even point' (titik impas-red.). Mereka berharap paling lambat Juli Garuda sudah harus terbang lagi," katanya.
Selain "Travel 7", biro perjalanan Australia lainnya yang telah berkomitmen untuk memasok jumlah penumpang 65 persen dari total kapasitas kursi tersebut adalah "Jetset Travel" dan "Frangipani" Darwin.
Komitmen itu mereka sampaikan kepadanya seandainya Garuda di Darwin sungguh-sungguh mengalami kesulitan karena "load factor" yang tidak sesuai dengan harapan untuk mencapai titik impas.
"Mereka berkomitmen untuk membantu tercapainya titik temu antara pemerintah negara bagian Northern Territory dan Garuda Indonesia," katanya.
Pertemuan Menteri Hubungan Asia NT, Christopher Bruce Burns, dengan Meneg BUMN Sofyan Djalil di Jakarta 8 Mei lalu menyepakati pembentukan tim teknis bersama yang akan mengkaji perihal rute penerbangan Denpasar-Darwin Garuda, katanya.
Data penumpang
Dilihat dari data penumpang Garuda yang dikeluarkan otoritas Bandar Udara Internasional Darwin, terjadi peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2006, jumlah penumpang Garuda Darwin mencapai 12 ribu orang namun pada 2007, jumlahnya meningkat sekitar 27 persen menjadi 17.834 orang.
"Sepanjang 2008, jumlah penumpang Garuda mencapai 25.147 orang atau naik sekitar 41 persen dari total jumlah penumpang tahun 2007. Hanya saja, pada periode Januari-Maret 2009, Garuda mengalami kerugian seperti yang juga dialami maskapai-maskapai penerbangan lainnya," kata Syahrul.
Menurut dia, berbagai maskapai penerbangan yang melayani rute penerbangan internasional dari dan ke Australia cenderung merugi pada tiga bulan pertama 2009 sebagai imbas dari kondisi perekonomian global.
Sejak Juni 2008 hingga sebelum ada keputusan penutupan, Garuda melayani tiga kali penerbangan Darwin-Denpasar per-minggu dengan pesawat Boeing 737-400 berkapasitas 16 kursi kelas bisnis dan 117 kursi kelas ekonomi, yakni setiap Senin, Rabu, dan Jumat.
Pesawat itu berangkat dari Denpasar pada pukul 01.20 dinihari dan tiba di Darwin pada pukul 05.20 pagi (waktu Darwin). Kemudian pesawat yang sama kembali terbang ke Denpasar dari Bandar Udara Internasional Darwin pada pukul 07.30 waktu setempat.
Dengan adanya keputusan Garuda menutup operasinya di Darwin itu berarti sudah dua kota utama Australia yang tidak lagi diterbangi maskapai penerbangan milik negera itu setelah Brisbane sejak awal 2007.
Keputusan manajemen Garuda menutup kantornya di Darwin itu dibuat ketika Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI menargetkan kunjungan wisatawan Australia ke Indonesia sebanyak 480 ribu orang pada 2009.
*) My updated news for ANTARA on May 26, 2009

No comments:
Post a Comment