Tuesday, May 12, 2009

DALAM SEHARI, INDONESIA SABET ENAM EMAS DI "ARAFURA GAMES"

Lagu "Indonesia Raya" berkumandang enam kali di arena Pesta Olahraga "Arafura Games" Darwin, Selasa, berkat keberhasilan para atlet Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dan Papua Barat menyabet enam medali emas di beberapa cabang olahraga.

Dari enam emas itu, lima diperoleh oleh para atlet tembak, renang, dan lompat tinggi Aceh, sedangkan satu sisanya disumbang atlet Papua Barat.

Dari lima medali emas tim Aceh itu, tiga di antaranya diperoleh dari cabang menembak dari atlet putri, Indah Juwita, yang turun di kelas "Air Rifle Match" 10 meter perorangan putri dan campuran, serta tim beregu putra yang terdiri dari Didik, Boy dan Reza Fikri.

Selain tiga emas, atlet tembak Aceh, Reza Fikri, juga menyabet dua medali perak, katanya, kata Sekjen Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh, Drs.Nuzuli MS.

Dengan demikian, hingga hari ke-empat berlangsungnya pesta olahraga dua tahunan ini, atlet-atlet dari Aceh sudah mengumpulkan tiga emas, dua perak dan dua perunggu dari cabang menembak.

Prestasi gemilang para atlet "Tanah Rencong" ini tidak berhenti di cabang menembak saja karena Atlet Lompat Tinggi Syahrial dan Perenang putri, Serli Yunita, yang turun di nomor final 200 meter gaya kupu-kupu juga behasil menyabet masing-masing satu medali emas.

Nuzuli MS mengatakan, atlet lompat tinggi berusia 20 tahun yang masih studi di FKIP Universitas Abul Yatama Aceh Besar itu berhasil mengungguli para pesaingnya setelah berhasil melakukan lompatan tertinggi dua meter.

Dari kolam renang, tim Aceh juga berhasil mengumpulkan empat medali perak dan satu perunggu.

Nuzuli menyambut hangat keberhasilan para atlet "Tanah Rencong" di pesta olahraga yang diikuti sekitar 3.000 orang atlet dari 40-an negara itu.

"Ini benar-benar 'surprise' (kejutan) yang menggembirakan kita. Akhirnya 'Merah Putih' berkibar juga. Dua emas yang sementara ini kita peroleh sungguh menandakan prestasi Aceh yang luar biasa," katanya.

Dengan adanya tambahan enam emas itu, perolehan medali kontingen Indonesia hingga Selasa malam pukul 23.00 waktu Darwin adalah enam emas, delapan perak dan 10 perunggu.

Selain disumbangkan atlet-atlet Aceh dari cabang menembak, renang dan atletik, satu emas, dua perak, dan tiga perunggu disumbang para atlet Papua Barat, dan satu perunggu dari atlet Papua.

Dalam perkembangan lain, empat petinju Indonesia masing-masing Yulieus Lumoli Afdan Bachtila, Ralin Lumoli, dan Nasruddin turun bertanding di kelas Bantam 54 kilogram, Ringan 60 kg, dan Berat Ringan 81 kg.

Yulieus bertemu petinju Timor Leste, Jose Amaral, Afdan ditantang Paulis B.Payong (Malaysia) dan Nasruddin bertemu Steven Ward (Irlandia Utara).

Memasuki hari keempat, tuan rumah Australia semakin jauh meninggalkan negara-negara peserta lainnya dalam perolehan medali.

Hingga Selasa pukul 16.30 waktu Darwin, total medali yang diperoleh Australia mencapai 291 buah dengan rincian 120 emas, 93 perak, dan 78 perunggu. Posisi kedua diisi Kaledonia Baru dengan 20 emas, 18 perak, dan 16 perunggu.

Seterusnya, Selandia Baru 11 emas, 19 perak dan 17 perunggu, Singapura (10 emas, enam perak, dan empat perunggu), Taiwan (tiga emas), Macau (China) tiga emas dan dua perunggu, Polinesia Perancis (dua emas, tiga perak dan satu perunggu), dan Papua New Guinea (dua emas, empat perak, dan enam perunggu).

Kepulauan Marshall (satu emas dan dua perak), Brunei Darussalam (satu emas, dua perak, dan dua perunggu), Malaysia (tiga emas, satu perak, dan satu perunggu), Filipina (tiga perak dan 13 perunggu), Fiji (satu emas dan dua perak), dan Uni Emirat Arab (satu emas dan dua perunggu).

Di Arafura Games yang berlangsung dari 9 hingga 17 Mei itu, Indonesia diwakili para atlet Aceh, Papua, Papua Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Maluku.

*) My updated news for ANTARA on May 12, 2009

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity