Sejumlah biro perjalanan utama Australia di Darwin siap membantu Garuda mendapatkan jumlah penumpang sedikitnya 65 persen dari kapasitas penuh kursi jika maskapai penerbangan nasional Indonesia itu kembali membuka rute Darwin-Denpasar selambat-lambatnya mulai Juli 2009."Mereka (biro-biro perjalanan di Darwin-red.) berjanji mengamankan 65 persen dari total kapasitas tempat duduk per pesawat untuk membantu Garuda mencapai 'break even point' (titik impas-red.). Mereka berharap paling lambat Juli Garuda sudah harus terbang lagi," kata Manajer Umum Garuda di Darwin, Syahrul Tahir.
Dalam perbincangan dengan ANTARA di Darwin 14 Mei lalu, Syahrul mengatakan, komitmen biro perjalanan Australia untuk memasok jumlah penumpang minimum atau sekitar 65 persen dari total kapasitas kursi tersebut antara lain disampaikan "Jetset Travel" dan "Frangipani" Darwin.
Komitmen itu mereka sampaikan kepadanya seandainya Garuda di Darwin sungguh-sungguh mengalami kesulitan karena "load factor" yang tidak sesuai dengan harapan untuk mencapai titik impas.
"Mereka berkomitmen untuk membantu tercapainya titik temu antara pemerintah negara bagian Northern Territory dan Garuda Indonesia," katanya.
Pertemuan Menteri Hubungan Asia NT, Christopher Bruce Burns, dengan Meneg BUMN Sofyan Djalil di Jakarta 8 Mei lalu menyepakati pembentukan tim teknis bersama yang akan mengkaji perihal rute penerbangan Denpasar-Darwin Garuda, katanya.
Dilihat dari data penumpang Garuda yang dikeluarkan otoritas Bandar Udara Internasional Darwin, terjadi peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2006, jumlah penumpang Garuda Darwin mencapai 12 ribu orang namun pada 2007, jumlahnya meningkat sekitar 27 persen menjadi 17.834 orang.
"Sepanjang 2008, jumlah penumpang Garuda mencapai 25.147 orang atau naik sekitar 41 persen dari total jumlah penumpang tahun 2007. Hanya saja, pada periode Januari-Maret 2009, Garuda mengalami kerugian seperti yang juga dialami maskapai-maskapai penerbangan lainnya," kata Syahrul.
Menurut dia, berbagai maskapai penerbangan yang melayani rute penerbangan internasional dari dan ke Australia cenderung merugi pada tiga bulan pertama 2009 sebagai imbas dari kondisi perekonomian global.
Karena kondisi tiga bulan yang merugi ini, manajemen Garuda di Jakarta kemudian memutuskan menutup rute penerbangan langsung Denpasar-Darwin PP yang pada akhir Juni 2009 genap berusia 30 tahun itu.
"Pesawat yang ada kemudian dioperasikan pada rute yang potensial namun berbagai pihak di negara bagian Northern Territory bertanya apakah wajar kehadiran Garuda di Darwin yang sudah 30 tahun akhir Juni 2009 ini kemudian hanya dinilai berdasarkan kondisi tiga bulan pertama 2009," katanya.
Keprihatinan banyak pihak
Sebelumnya, Sekretaris II Fungsi Pensosbud Konsulat RI Darwin, Arvinanto Soeriaatmadja, mengatakan, pemerintah NT, Konsulat RI Darwin, dan kalangan masyarakat Indonesia dan Australia di Darwin sangat prihatin dengan penutupan rute Garuda sejak 22 April lalu.
Pemerintah NT sendiri bahkan telah pun menawarkan dukungan pendanaan kerja sama pemasaran Garuda di Darwin kepada pemerintah RI dan manajemen Garuda.
Tawaran tersebut bagian dari upaya serius pemerintah NT mempertahankan kehadiran maskapai penerbangan nasional Indonesia itu di Darwin. "Saya akan melakukan apa pun untuk mengembalikan Garuda ke Darwin," katanya.
Pada intinya, pihaknya berharap pemerintah RI dan manajemen Garuda mempertimbangkan kembali keputusan tentang penghentian rute penerbangan Darwin-Denpasar yang telah ada sejak 1980 itu.
Sejak Juni 2008 hingga sebelum ada keputusan penutupan, Garuda melayani tiga kali penerbangan Darwin-Denpasar per-minggu dengan pesawat Boeing 737-400 berkapasitas 16 kursi kelas bisnis dan 117 kursi kelas ekonomi, yakni setiap Senin, Rabu, dan Jumat.
Pesawat itu berangkat dari Denpasar pada pukul 01.20 dinihari dan tiba di Darwin pada pukul 05.20 pagi (waktu Darwin). Kemudian pesawat yang sama kembali terbang ke Denpasar dari Bandar Udara Internasional Darwin pada pukul 07.30 waktu setempat.
Dengan adanya keputusan Garuda menutup operasinya di Darwin itu berarti sudah dua kota utama Australia yang tidak lagi diterbangi maskapai penerbangan milik negera itu setelah Brisbane sejak awal 2007.
Keputusan manajemen Garuda menutup kantornya di Darwin itu dibuat ketika Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI menargetkan kunjungan wisatawan Australia ke Indonesia sebanyak 480 ribu orang pada 2009.
*) My news for ANTARA on May 20, 2009

No comments:
Post a Comment