Pimpinan "Travel Seven" Darwin, Xana Kamitsis, mengatakan, pihaknya akan berupaya keras membantu Garuda Indonesia mengisi sedikitnya 65 persen dari total kapasitas kursi penumpang jika Garuda kembali menerbangi Darwin, Australia Utara."Kalau Garuda mematok kapasitas penumpang yang terisi minimal 65 persen, saya fikir jumlah itu bisa kami penuhi. Itu dapat dicapai," katanya dalam perbincangan dengan ANTARA di Darwin, 14 Mei lalu, berkaitan dengan masalah penghentian rute penerbangan Garuda dari Denpasar-Darwin sejak 22 April 2009.
Kamitsis mengatakan, pihaknya sangat menyayangkan keputusan manajemen Garuda di Jakarta karena ketidakhadiran maskapai penerbangan nasional Indonesia di Darwin itu telah menutup peluang para pengguna jasa penerbangan di Northern Territory (NT) yang akan ke Bali atau sebaliknya untuk memilih jasa penerbangan.
"Kini tidak ada kompetisi lagi untuk rute penerbangan ke Bali dari Darwin," katanya.
Pimpinan biro perjalanan utama di Australia Utara itu juga mengatakan, ketidakhadiran Garuda di Darwin juga berimplikasi pada masyarakat karena maskapai penerbangan Indonesia tersebut selama sekitar 30 tahun kehadirannya di NT dikena dekat dengan masyarakat setempat.
Sebelumnya, Manajer Umum Garuda di Darwin, Syahrul Tahir, yang ditemui secara terpisah mengatakan, sejumlah biro perjalanan utama Australia sudah siap membantu pihaknya mendapatkan 65 persen dari kapasitas penuh kursi penumpang jika Garuda kembali menerbangi ibukota negara bagian NT itu mulai Juli 2009.
"Mereka (biro-biro perjalanan di Darwin-red.) berjanji mengamankan 65 persen dari total kapasitas tempat duduk per pesawat untuk membantu Garuda mencapai 'break even point' (titik impas-red.). Mereka berharap paling lambat Juli Garuda sudah harus terbang lagi," katanya.
Selain "Travel 7", biro perjalanan Australia lainnya yang telah berkomitmen untuk memasok jumlah penumpang 65 persen dari total kapasitas kursi tersebut adalah "Jetset Travel" dan "Frangipani" Darwin.
Komitmen itu mereka sampaikan kepadanya seandainya Garuda di Darwin sungguh-sungguh mengalami kesulitan karena "load factor" yang tidak sesuai dengan harapan untuk mencapai titik impas.
"Mereka berkomitmen untuk membantu tercapainya titik temu antara pemerintah negara bagian Northern Territory dan Garuda Indonesia," katanya.
Pertemuan Menteri Hubungan Asia NT, Christopher Bruce Burns, dengan Meneg BUMN Sofyan Djalil di Jakarta 8 Mei lalu menyepakati pembentukan tim teknis bersama yang akan mengkaji perihal rute penerbangan Denpasar-Darwin Garuda, katanya.
Dilihat dari data penumpang Garuda yang dikeluarkan otoritas Bandar Udara Internasional Darwin, terjadi peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2006, jumlah penumpang Garuda Darwin mencapai 12 ribu orang namun pada 2007, jumlahnya meningkat sekitar 27 persen menjadi 17.834 orang.
"Sepanjang 2008, jumlah penumpang Garuda mencapai 25.147 orang atau naik sekitar 41 persen dari total jumlah penumpang tahun 2007. Hanya saja, pada periode Januari-Maret 2009, Garuda mengalami kerugian seperti yang juga dialami maskapai-maskapai penerbangan lainnya," kata Syahrul.
Menurut dia, berbagai maskapai penerbangan yang melayani rute penerbangan internasional dari dan ke Australia cenderung merugi pada tiga bulan pertama 2009 sebagai imbas dari kondisi perekonomian global.
Karena kondisi tiga bulan yang merugi ini, manajemen Garuda di Jakarta kemudian memutuskan menutup rute penerbangan langsung Denpasar-Darwin PP yang pada akhir Juni 2009 genap berusia 30 tahun itu.
"Pesawat yang ada kemudian dioperasikan pada rute yang potensial namun berbagai pihak di negara bagian Northern Territory bertanya apakah wajar kehadiran Garuda di Darwin yang sudah 30 tahun akhir Juni 2009 ini kemudian hanya dinilai berdasarkan kondisi tiga bulan pertama 2009," katanya.
Sejak Juni 2008 hingga sebelum ada keputusan penutupan, Garuda melayani tiga kali penerbangan Darwin-Denpasar per-minggu dengan pesawat Boeing 737-400 berkapasitas 16 kursi kelas bisnis dan 117 kursi kelas ekonomi, yakni setiap Senin, Rabu, dan Jumat.
Pesawat itu berangkat dari Denpasar pada pukul 01.20 dinihari dan tiba di Darwin pada pukul 05.20 pagi (waktu Darwin). Kemudian pesawat yang sama kembali terbang ke Denpasar dari Bandar Udara Internasional Darwin pada pukul 07.30 waktu setempat.
Dengan adanya keputusan Garuda menutup operasinya di Darwin itu berarti sudah dua kota utama Australia yang tidak lagi diterbangi maskapai penerbangan milik negera itu setelah Brisbane sejak awal 2007.
Keputusan manajemen Garuda menutup kantornya di Darwin itu dibuat ketika Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI menargetkan kunjungan wisatawan Australia ke Indonesia sebanyak 480 ribu orang pada 2009.
*) My updated news for ANTARA on May 20, 2009

No comments:
Post a Comment