Indonesia yang secara geografis dekat dengan Australia ternyata "masih asing" bagi sebagian pelajar Australia. Bahkan mereka tak mampu menunjukkan letak Indonesia di peta dunia.Selain itu, ada pula pekerja media negara itu yang mengaku tidak banyak tahu tentang sisi moderat umat Islam Indonesia kecuali "sosok Abu Bakar Ba'asyir".
Dua fakta tersebut disampaikan Aktivis Muhammadiyah Jawa Barat, Dede Syarif, dari hasil kunjungan dirinya bersama dua peserta program pertukaran pemimpin muda Muslim Australia-Indonesia lainnya ke sebuah sekolah Katolik di pinggiran kota Melbourne dan kantor Harian "The Age", pekan lalu.
Dosen Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung ini mengatakan, ia terkejut mendapati kenyataan rendahnya pengetahuan puluhan siswa "Braemar College" tentang beragam hal tentang Indonesia.
"Saat kita di sana (sekolah itu), kita disodorkan 30 pertanyaan yang sudah disiapkan para siswa secara tertulis. Pertanyaan-pertanyaan mereka mengindikasikan bahwa mereka sama sekali tidak tahu dan apalagi mengerti tentang Indonesia."
"Bahkan, seolah-olah kita berasal dari planet lain yang datang ke mereka. Untuk menunjukkan dimana letak Indonesia, ada teman kita yang terpaksa harus menggambar peta Indonesia dan letaknya yang dekat dengan Australia," kata Dede.
Keterkejutannya tidak berhenti hanya pada masalah letak Indonesia di peta dunia. Keterkejutan berikutnya, lanjut Dede, muncul dari pertanyaan salah seorang siswa tentang Hizbullah, organisasi politik kelompok Islam haluan Syiah di Libanon dan memiliki sayap militer.
"Munculnya pertanyaan 'do you know Hizbullah' (apa anda tahu tentang Hizbullah) ini bisa jadi menunjukkan kuatnya pengaruh media terhadap pembentukan opini publik (di Australia)," katanya.
Dalam kesempatan berkunjung ke kantor Suratkabar "The Age" Melbourne, Dede mengaku mendapat kejutan lain saat dia bertanya kepada seorang redaktur bidang politik koran bergengsi di Australia itu tentang apa yang dia ketahui tentang Islam di Indonesia.
"Redaktur itu menjawab dia tidak banyak tahu (tentang Islam di Indonesia) kecuali Abu Bakar Ba'asyir'," katanya.
Mendapat jawaban yang simpel demikian, ia dan dua peserta program pertukaran pemimpin muda Muslim Australia-Indonesia lainnya, Samsul Ma'arif Mujiharto dan Zainuri, berupaya menjelaskan bahwa Ba'asyir yang pernah memimpin Majelis Mujahiddin Indonesia ini tidak mewakili mayoritas Muslim Indonesia yang moderat.
Temuan ini menunjukkan betapa media di Australia masih didominasi oleh "berita-berita miring" tentang Islam, katanya.
Ramah dan bersahabat
Namun Dede mengaku kekeliruan pandangannya tentang karakteristik orang-orang kulit putih Australia yang di dalam benaknya sudah pasti "egois, individualis, dan punya sikap yang sama dengan Amerika" kini pupus setelah melihat dan merasakan langsung keramahan dan persahabatan warga Australia yang ditemuinya.
Berkaitan dengan masalah media, Dosen Fakultas Filsafat UGM, Samsul Ma'arif Mujiharto, mengatakan, sudah saatnya media di manapun memberikan informasi yang akurat dengan porsi yang berimbang tentang fakta-fakta di dalam beritanya.
Melalui kontak antarwarga Australia dan Indonesia yang intensif, ada peluang bagi kedua pihak untuk memperbaiki persepsi yang keliru tentang "kita" dan "mereka", katanya.
"Kita akan menjadi agen informasi akurat itu buat masyarakat kita dan mereka," kata dosen mata kuliah agama dan sains Fakultas Filsafat UGM ini.
Sementara itu, Dosen Fakultas Dakwah IAIN Mataram, Zainuri, melihat Australia sebagai negara multi budaya yang memandang agama sebagai "masalah pribadi" penduduknya.
Australia dinilai Zainuri berhasil menerapkan kebersihan dan ketertiban di dalam kehidupan sosial karena mentalitas budaya masyarakatnya yang sudah relatif baik.
Kondisi baik yang sudah dicapai Aus tralia ini perlu dicontoh Indonesia dengan terus-menerus memperbaiki mentalitas rakyat lewat pendidikan yang tidak teoritis tetapi juga berorientasi pada aplikasi nilai-nilai, katanya.
Selama mengikuti program kunjungan dari 3-17 Mei, ketiga tokoh muda Muslim Indonesia ini tidak hanya diberi kesempatan bertemu dan berdialog dengan kalangan pemerintah, akademisi, agamawan, dan media, tetapi juga mengunjungi rumah ibadah dan sekolah di Melbourne, Canberra dan Sydney sebagai tiga kota sasaran.
Pada kunjungan mereka ke Canberra 11 Mei lalu, mereka sempat diterima Gubernur Jenderal Australia, Quentin Bryce, di Wisma Pemerintah.
Koordinator Program Pertukaran Pemimpin Muda Muslim Australia-Indonesia untuk Canberra, Umar Faruk Assegaf, mengatakan, pertemuan para peserta dengan Gubernur Jenderal Quentin Bryce itu baru pertama kali terjadi sejak Lembaga Australia-Indonesia (AII) meluncurkan program ini tahun 2002.
Pada pertemuan itu, gubernur jenderal menekankan pentingnya penguatan hubungan antarwarga Australia-Indonesia dan upaya bersama saling mengenal budaya masing-masing dan segala aspeknya guna membangun hubungan yang lebih kokoh dan stabil, katanya.
*) My news for ANTARA on May 14, 2009

No comments:
Post a Comment