Thursday, May 28, 2009

AUSTRALIA BANTU DANAI "GURU BANTU" BAHASA INDONESIA

Departemen Pendidikan dan Pelatihan negara bagian Australian Capital Territory (ACT), Keuskupan Agung Canberra dan Kantor Pendidikan Katolik Goulburn akan menyiapkan dana 24 ribu dolar Australia untuk mendukung pengadaan tenaga pembantu pengajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah.

"Pendanaan ini akan sangat membantu upaya memperbaiki mutu pengajaran bahasa Indonesia di ACT," kata Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di KBRI Canberra, Dr.Aris Junaidi, dalam penjelasannya kepada ANTARA, Kamis, tentang upaya mengembalikan popularitas bahasa Indonesia di sekolah-sekolah Australia.

Ia mengatakan, pada 2008, KBRI Canberra dan Departemen Pendidikan dan Pelatihan (DET) ACT bekerja sama menyelenggarakan program pengadaan para penutur asli bahasa Indonesia untuk diperbantukan di empat sekolah di Canberra dan sekitarnya yang mengajarkan bahasa Indonesia.

Program pengadaan tenaga bantu pengajaran bahasa Indonesia itu kini dapat diperluas ke 14 sekolah negeri dan swasta yang ada di ACT.

"Program ini sangat membantu para pelajar Australia meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia mereka dari berinteraksi langsung dengan para penutur asli. Banyak guru Australia yang mengatakan murid-murid mereka menerima dengan baik kehadiran para guru bantu ini di kelas mereka," katanya.

Bagi para tenaga bantu yang umumnya adalah mahasiswa pasca-sarjana Indonesia di Canberra ini juga dapat belajar lebih banyak tentang budaya lokal dan metode pengajaran sekolah-sekolah Australia yang berguna bagi Indonesia kelak setelah mereka kembali, katanya.

Jika sebelumnya sepenuhnya didanai KBRI Canberra, pembiayaan bagi program pengadaan tenaga bantu pengajaran bahasa Indonesia itu kini ditanggung bersama setelah DET dan Kantor Pendidikan Katolik Goulburn menerima suntikan dana pemerintah lewat "Program Nasional Studi dan Bahasa Asia di Sekolah" (NALSSP).

Program NALSSP senilai 62,4 juta dolar Australia itu bertujuan untuk mendukung pengajaran empat bahasa Asia, yakni China, Jepang, Korea, dan Indonesia.

"Saat ini adalah momentum yang menggembirakan bagi studi Indonesia di Australia. Pemerintah negara bagian ACT dan federal pun memberikan dukungan besar. Saya bangga KBRI membantu mempromosikan pengajaran bahasa dan budaya Indonesia di sekolah-sekolah ACT lewat program asisten pengajar ini," katanya.

Kini ada 25 sekolah negeri dan swasta di kota Canberra dan sekitarnya yang mengajarkan bahasa Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah pelajar Australia yang mempelajari bahasa Indonesia terus menurun walaupun bahasa Indonesia masih menjadi bahasa asing ketiga yang paling banyak diajarkan di sekolah-sekolah negeri di negara bagian ACT.

*) My updated news for ANTARA on May 28, 2009

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity